Indonesia kebut pengembangan ekosistem kendaraan listrik

Rabu, 20 Januari 2021 | 08:05 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Indonesia kebut pengembangan ekosistem kendaraan listrik


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia bersiap memasuki era Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) alias Electric Vehicle (EV). Pemerintah bersama stakeholders terkait termasuk BUMN dan swasta mengebut pengembangan ekosistem KLBB di Indonesia. DPR RI pun mendorong upaya tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan, mendorong pemanfaatan KBLBB menjadi salah satu program kerja stategis Kementerian ESDM pada tahun 2021. Dukungan pun diberikan pemerintah dari sisi hulu hingga hilir.

Di hulu, pemerintah mengamankan rantai bahan baku dari tambang hingga pembangunan pabrik baterai. Konservasi cadangan mineral, khususnya nikel sudah diatur pemerintah hingga ke hilirisasi di dalam negeri.

Sejumlah aturan sudah diterbitkan, seperti Perturan Menteri (Permen) ESDM No. 11 Tahun 2019 mengenai pengendalian ekspor nikel sebagai upaya konservasi bahan baku EV battery hingga Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 yang di dalamnya mengatur peningkatan nilai tambah mineral logam.

"Kita dorong penggunaan kendaraan listrik. Strategi dan dukungan kebijakan kami untuk percepatan pembangunan EV battery dan KBLBB," terang Arifin dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (19/1).

Lebih lanjut, Arifin pun membeberkan bahwa pihaknya juga telah menerbitkan Permen ESDM No. 13 Tahun 2020 mengenai infrastruktur pengisian listrik untuk KBLBB. Lalu, telah digelar public launching program KBLBB pada 17 Desember 2020.

Program tersebut mengajak peran aktif stakeholders dan masyarakat untuk mempercepat pengembangan KBLBB di Indonesia. "Beberapa instansi baik pemerintah pusat, daerah, BUMN maupun swasta telah berkomitmen untuk mulai menggunakan KBLBB," sambung Arifin.

Untuk menyoking program tersebut, infrastruktur pendukung KBLBB bakal terus digenjot. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) bakal terus bertambah. Roadmap pun telah disusun pemerintah.

Pada tahun 2021 ini, jumlah SPKLU ditargetkan sebanyak 572 unit. Pada 2025, SPKLU akan meningkat menjadi 6.318 unit, dan terus bertambah hingga 31.859 unit pada tahun 2030.

Untuk SPBKLU, tahun ini ditargetkan ada 3.000 unit. Kemudian bertambah menjadi 17.000 unit hingga menyentuh 67.000 unit SPBKLU pada tahun 2030. Pertumbuhan infrastruktur tersebut diperlukan untuk mengimbangi potensi peningkatan KBLBB baik itu mobil maupun motor.

Pada tahun 2021 diperkirakan ada 125.000 unit mobil listrik. Lalu meningkat pada tahun 2025 menjadi 374.000 unit. Pada 2030 jumlahnya berpotensi meningkat ke angka 2.195.000 unit. Untuk potensi pertumbuhan motor listrik, pada tahun ini diperkirakan ada 1.344.000 unit. Pada tahun 2025 jumlahnya meroket ke angka 11.793.000 unit. Lalu mencapai 13.000.000 unit pada 2030.

Ketahanan Energi dan Ramah Lingkungan

Dalam paparannya, Arifin menyampaikan bahwa program KBLBB menjadi bagian dari strategi meningkatkan ketahanan energi nasional, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM). "Yang akan berdampak positif dalam pengurangan tekanan neraca pembayaran Indonesia akibat impor BBM," ungkapnya.

Dalam roadmap KBLBB hingga 2030, pada tahun 2021 diproyeksikan ada potensi pengurangan konsumsi BBM sebanyak 0,44 juta kilo liter (KL). Pada tahun 2025, potensi pengurangan konsumsi BBM berada di angka 2,56 juta KL per tahun. 

Dengan meningkatnya penggunaan KBLBB, potensi pengurangan konsumsi BBM sebanyak 6,03 juta KL per tahun pada 2030. "Tentu saja, kendaraan listrik ini memang bisa dipakai untuk menghemat BBM nanti cukup signifikan, penghitungan kita bisa sampai 6 juta KL," terang Arifin.

Di sisi lain, sebagai perusahaan setrum plat merah, PT PLN (Persero) juga siap menyokong era kendaraan listrik. Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menekankan bahwa kendaraan listrik juga mesti dilihat sebagai upaya dalam mencapai ketahanan dan kemandian energi.

Tanpa adanya pengembangan kendaraan listrik, konsumsi BBM akan terus meroket, yang berarti impor BBM juga semakin menanjak. Namun dengan pengembangan kendaraan listrik, Indonesia perlahan bisa beralih dari yang semula mengandalkan energi berbasis impor, menjadi energi yang berasal dari dalam negeri. 

"Dengan adanya konektivitas infrastruktur, konsumsi BBM bisa terakselerasi. Lalu bagaimana 10 tahun ke depan? untuk itu menjadi tantangan dalam merancang energy security. Bagaimana energi kita yang berbasis pada impor menjadi energi berbasis domestik," ungkap Darmawan dalam wawancara eksklusif bersama KONTAN, beberapa waktu lalu.

Selain mengurangi impor BBM, kendaraan listrik juga mengurangi pencemaran lingkungan. Darmawan pun memberikan gambaran bagaimana mobil listrik lebih ramah lingkungan dibanding mobil yang menggunakan BBM.

Sebagai gambaran untuk kondisi Jakarta, 1 liter bensin yang bisa dipakai untuk menggerakan mobil hingga 10 kilometer menghasilkan emisi sekitar 2,4 kilo Co2. Sedangkan dengan mobil listrik, dari 1 kilowatt hour (kWh) sebagai perbandingan dari 1 liter bensin, emisi yang dihasilkan lebih rendah, yakni sekitar 850 gram Co2 saja.

Darmawan pun menjelaskan, sumber energi untuk menghasilkan listrik semestinya tidak menjadi kendala. Pasalnya, listrik dari batubara saja menghasilkan emisi sekitar 700 gram per kWh. Namun, pasokan listrik tidak hanya berasal dari batubara, melainkan juga dari sumber lainnya yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Untuk Jakarta misalnya, pasokan listrik juga berasal dari pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU), pembangkit dengan energi air (PLTA) serta energi yang bersumber dari panas bumi (PLTP). "Gas emisinya lebih kecil. Ada (PLTA) Cirata, Saguling, ada panas bumi, artinya emisinya nol. Sehingga, emisi mobil listrik anggap saja hanya separuhnya daripada emisi Co2 mobil BBM," terang Darmawan.

PLN pun telah melakukan uji coba KBLBB yang dikendarai dari Jakarta ke Bali pada akhir Desember 2020 lalu. Uji coba tersebut membuktikan kesiapan infrastruktur kendaraan listrik (SPKLU) pada rute tersebut. Menteri BUMN Erick Thohir pun mengapreasiasi capaian tersebut.

Saat ini, SPKLU yang sudah beroperasi dapat digunakan untuk mendukung penggunaan mobil listrik. Adapun, penyiapan infrastruktur charging komposisinya 80% di rumah tangga, dan 20% SPKLU di tempat-tempat umum. 

"Untuk mencapai Ketahanan energi nasional yang seimbang, diperlukan solusi, salah satunya mobil listrik, dan tim PLN sudah menunjukkan komitmennya dengan penyediaan infrastruktur pendukung KBLBB di Indonesia melalui SPKLU" ungkap Erick Thohir dalam keterangan tertulis PLN, Sabtu (2/1).

Dilihat dari sisi biaya operasional, penggunaan mobil listrik  juga dinilai lebih efisien dibandingkan mobil BBM. Bahkan, PLN juga telah menyiapkan diskon untuk tambah daya dan diskon sebesar 30% untuk tarif pengisian daya mobil listrik di rumah pada malam hari. 

“Hanya seperlima dari mobil BBM. Misalnya untuk jarak tempuh Jakarta - Bali, kalau mobil yang pakai premium bisa menghabiskan biaya Rp 1,1 juta, dengan mobil listrik Rp 200 ribu, tambah lagi alam lebih bersih" imbuh Erick.

Terpisah, Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini menjelaskan bahwa hingga saat ini, PLN telah mengoperasikan sekitar 20 unit SPKLU milik perseroan dan 2 unit SPKLU yang menjadi proyek percobaan dengan para mitra. 

Sedangkan untuk menunjang penggunaan mobil listrik di Tol Trans Jawa, saat ini PLN telah memiliki SPKLU di 4 rest area di Tol Trans Jawa.  Adapun pada tahun ini PLN berencana membangun sebanyak 57 SPKLU, dengan perkiraan investasi mencapai Rp 34 Miliar. 

PLN juga meluncurkan platform digital charge.in dalam pengembangan, yang diharapkan dapat menjadi platform tunggal untuk seluruh SPKLU di seluruh Indonesia.  “Era kendaraan listrik telah tiba dan kami pastikan penyediaan pasokan listrik dan berbagai infrastruktur kelistrikan seperti SPKLU akan kami siapkan,“ ungkap Zulkifli. 

Tak hanya dari PLN, BUMN besar lainnya juga mengembangkan infrastruktur untuk KBLBB. PT Pertamina (Persero), bahkan sudah mengoperasikan SPKLU di SPBU Fatmawati, Jakarta. 

Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relations Pertamina Agus Suprijanto menyampaikan bahwa pihaknya berencana mengembangkan 3 unit SPKLU untuk dapat dioperasikan pada tahun ini. Pertamina pun berencana untuk mengembangkan infrastruktur KBLBB lainnya.

"Pertamina rencana juga akan mengembangkan infrastruktur EV berupa SPBKLU, dimana pada tahun 2020 sudah diawali dengan ujicoba skala kecil," kata Agus kepada Kontan.co.id, Selasa (19/1).

Tak hanya dari BUMN, dukungan juga datang dari perusahaan swasta. Melalui PT Medco Power Indonesia, PT Medco Eenrgi Internasional Tbk (MEDC) juga bakal menjajaki EV Ecosystem pada awal tahun ini.

Direktur Utama MedcoPower Eka Satria memang  belum membeberkan secara detail skema EV ecosystem yang akan dibangun, jumlah infrastruktur yang akan disediakan, maupun besaran investasinya. Yang pasti, peluncuran pertama EV ecosystem MPI rencananya akan dilakukan di Jakarta, pada Januari ini.

"Insya Allah nanti bulan Januari kita akan launching EV Ecosystem kita yang pertama dan charging station," kata Eka dalam media gathering yang digelar secara daring, Selasa (8/12/2020).

Insentif dan Investasi

Ekosistem KBLBB memang bakal menarik investasi berskala besar. Terintegrasi dari hulu hingga ke hilir, BUMN pun membentuk Indonesia Battery Holding yang terdiri dari holding tambang MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Kontan.co.id sebelumnya memberitakan, Deputi Deregulasi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot menyampaikan bahwa untuk mencapai target sesuai outlook, diperlukan investasi yang membawa modal besar ke dalam negeri. Salah satunya, industri mobil listrik.

“Industri mobil listrik ini dari hulu ke hilir, sehingga menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Ya cukup mendukung karena sumber bahan baku pemenuhan industri ini kita punya dari sisi permesinan, baterai, hingga bahan mobil,” kata Yuliot kepada Kontan.co.id, Kamis (14/1).

Dia menyebut, geliat investor asing untuk menanamkan modal mulai bermunculan setelah Hyundai Motor meralisasikan investasinya sebesar US$ 1,55 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 21 triliun. Catatan BKPM, nilai investasi itu direalisasikan dalam dua tahap.

Sementara itu, LG Energy Solution Ltd yang bekerja sama dengan konsorsium BUMN juga berencana akan merealisasikan investasi sebesar US$ 9,8 miliar, atau sekitar Rp 142 triliun. Adapun Kepala BKPM Bahlil Lahadalia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan LG Energy Solution di Seoul, Korea Selatan pada tanggal 18 Desember 2020 lalu. 

Melihat adanya dukungan regulasi, khususnya dari Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 dan turunannya, serta minat investasi yang tinggi dari dalam dan luar negeri, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) yakin ekosistem EV akan terbentuk dengan baik.

"Melihat semua progres tersebut, prospek pengembangan kendaraan listrik akan sangat baik di Indonesia," ungkap Ketua Umum MKI Wiluyo Kusdwihato kepada Kontan.co.id, Selasa (19/1).

Menurutnya, kendala terbesar saat ini adalah masih mahalnya harga EV itu sendiri. "Namun kita jangan terjebak di situ. Pengembangan EV juga bisa dimulai dari transportasi publik," sambung Wiluyo.

Terpisah, Menteri ESDM Arifin Tasrif juga mengakui bahwa untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik, pemberian insentif memang diperlukan. Dia bilang, saat ini pemerintah sedang membahas sejumlah insentif, termasuk dari sisi perpajakan.

"Memang diperlukan beberapa insentif, antara lain terkait dengan perpajakan, kemudian juga nanti prioritas di jalan.  Kita juga sedang mengkaji, pergantian motor konvensional menjadi baterai listrik," jels Arifin.

Komisi VII DPR RI pun mendorong pemerintah agar menerbitkan kebijakan yang dapat memperlancar pengembangan kendaraan listrik, termasuk untuk pembangunan pabrik EV battery. Tak hanya bagi ketahanan energi, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Ramson Siagian menegaskan bahwa EV perlu didorong untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari kendaraan.

"Artinya kalau kendaraan ini makin banyak (EV), berarti kan bekurang polusinya. Jadi ini suatu kebijakan yang perlu didorong. Sangat bagus, artinya tolong diberikan dukungan sepenuhnya," pungkas Ramson.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 3 4 Tampilkan Semua
Editor: Handoyo .

Terbaru