Indonesia kebut pengembangan ekosistem kendaraan listrik

Rabu, 20 Januari 2021 | 08:05 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Indonesia kebut pengembangan ekosistem kendaraan listrik


Ketahanan Energi dan Ramah Lingkungan

Dalam paparannya, Arifin menyampaikan bahwa program KBLBB menjadi bagian dari strategi meningkatkan ketahanan energi nasional, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM). "Yang akan berdampak positif dalam pengurangan tekanan neraca pembayaran Indonesia akibat impor BBM," ungkapnya.

Dalam roadmap KBLBB hingga 2030, pada tahun 2021 diproyeksikan ada potensi pengurangan konsumsi BBM sebanyak 0,44 juta kilo liter (KL). Pada tahun 2025, potensi pengurangan konsumsi BBM berada di angka 2,56 juta KL per tahun. 

Dengan meningkatnya penggunaan KBLBB, potensi pengurangan konsumsi BBM sebanyak 6,03 juta KL per tahun pada 2030. "Tentu saja, kendaraan listrik ini memang bisa dipakai untuk menghemat BBM nanti cukup signifikan, penghitungan kita bisa sampai 6 juta KL," terang Arifin.

Di sisi lain, sebagai perusahaan setrum plat merah, PT PLN (Persero) juga siap menyokong era kendaraan listrik. Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menekankan bahwa kendaraan listrik juga mesti dilihat sebagai upaya dalam mencapai ketahanan dan kemandian energi.

Tanpa adanya pengembangan kendaraan listrik, konsumsi BBM akan terus meroket, yang berarti impor BBM juga semakin menanjak. Namun dengan pengembangan kendaraan listrik, Indonesia perlahan bisa beralih dari yang semula mengandalkan energi berbasis impor, menjadi energi yang berasal dari dalam negeri. 

"Dengan adanya konektivitas infrastruktur, konsumsi BBM bisa terakselerasi. Lalu bagaimana 10 tahun ke depan? untuk itu menjadi tantangan dalam merancang energy security. Bagaimana energi kita yang berbasis pada impor menjadi energi berbasis domestik," ungkap Darmawan dalam wawancara eksklusif bersama KONTAN, beberapa waktu lalu.

Selain mengurangi impor BBM, kendaraan listrik juga mengurangi pencemaran lingkungan. Darmawan pun memberikan gambaran bagaimana mobil listrik lebih ramah lingkungan dibanding mobil yang menggunakan BBM.

Sebagai gambaran untuk kondisi Jakarta, 1 liter bensin yang bisa dipakai untuk menggerakan mobil hingga 10 kilometer menghasilkan emisi sekitar 2,4 kilo Co2. Sedangkan dengan mobil listrik, dari 1 kilowatt hour (kWh) sebagai perbandingan dari 1 liter bensin, emisi yang dihasilkan lebih rendah, yakni sekitar 850 gram Co2 saja.

Darmawan pun menjelaskan, sumber energi untuk menghasilkan listrik semestinya tidak menjadi kendala. Pasalnya, listrik dari batubara saja menghasilkan emisi sekitar 700 gram per kWh. Namun, pasokan listrik tidak hanya berasal dari batubara, melainkan juga dari sumber lainnya yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Untuk Jakarta misalnya, pasokan listrik juga berasal dari pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU), pembangkit dengan energi air (PLTA) serta energi yang bersumber dari panas bumi (PLTP). "Gas emisinya lebih kecil. Ada (PLTA) Cirata, Saguling, ada panas bumi, artinya emisinya nol. Sehingga, emisi mobil listrik anggap saja hanya separuhnya daripada emisi Co2 mobil BBM," terang Darmawan.

PLN pun telah melakukan uji coba KBLBB yang dikendarai dari Jakarta ke Bali pada akhir Desember 2020 lalu. Uji coba tersebut membuktikan kesiapan infrastruktur kendaraan listrik (SPKLU) pada rute tersebut. Menteri BUMN Erick Thohir pun mengapreasiasi capaian tersebut.

Editor: Handoyo .

Terbaru