Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemangkasan pasokan minyak mentah oleh Saudi Aramco kepada pembeli di kawasan Asia berpotensi menekan strategi pengadaan minyak Indonesia. Situasi ini dapat memicu kenaikan harga minyak di pasar regional dan berdampak pada beban subsidi energi.
Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) mulai mengantisipasi gangguan suplai global tersebut melalui diversifikasi sumber impor serta penguatan pasokan minyak domestik.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu perdagangan energi internasional.
Sesuai arahan Presiden, Kementerian ESDM memastikan ketersediaan energi nasional tetap aman guna memenuhi kebutuhan masyarakat serta menjaga stabilitas ekonomi.
“Berbagai langkah antisipatif terus dilakukan, mulai dari penguatan pasokan dari sumber yang beragam, optimalisasi distribusi, hingga pemantauan intensif di seluruh wilayah,” ujar Dwi Anggia kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, kondisi global yang tidak menentu juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendorong efisiensi penggunaan energi oleh masyarakat.
Baca Juga: Pemerintah Bakal Hemat Rp 9,67 T dari WFH 1 Hari/Minggu, Siapa Paling Rugi?
Pertamina Maksimalkan Produksi dan Diversifikasi Impor
Di sisi pelaku usaha, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut perusahaan memaksimalkan produksi domestik sekaligus memperluas diversifikasi impor minyak mentah agar tidak bergantung pada satu negara pemasok.
Strategi pengadaan dilakukan melalui kombinasi kontrak jangka panjang (term) dan pembelian spot guna menjaga fleksibilitas pasokan.
Pertamina juga mengelola stok BBM secara dinamis sesuai kebutuhan, dengan mengandalkan sistem logistik terintegrasi dari hulu hingga hilir. Selain itu, Pertamina terus memantau perkembangan harga energi global serta dinamika geopolitik untuk menjaga stabilitas suplai nasional.
Ketergantungan Impor Minyak Indonesia Masih Tinggi
Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi menilai, pemangkasan pasokan minyak oleh Saudi Aramco menjadi sinyal tekanan suplai global yang dapat langsung dirasakan Indonesia.
Pasalnya, ketergantungan impor minyak nasional masih tinggi, yakni sekitar 55%–60% dari kebutuhan BBM domestik.
Risiko yang muncul tidak hanya terkait ketersediaan fisik pasokan, tetapi juga lonjakan harga minyak di pasar Asia (premium Asia) serta kenaikan biaya logistik. Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Badiul memperkirakan jika pemangkasan suplai mendorong kenaikan harga minyak global sebesar US$ 5–10 per barel, tambahan beban kotor impor minyak Indonesia dapat mencapai US$ 1,1 miliar hingga US$ 2,2 miliar per tahun atau setara Rp 17 triliun–Rp 34 triliun.
Dampak lanjutan juga dapat berupa pelebaran defisit transaksi berjalan serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Baca Juga: OJK Masih Moratorium Izin Fintech, Cek Daftar Pinjol Legal Agar Tak Tertipu Ilegal











