Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kasus kematian misterius di kapal pesiar MV Hondius mendadak jadi sorotan dunia setelah WHO melaporkan tiga penumpang tewas diduga akibat infeksi hantavirus, virus langka yang berasal dari tikus dan bisa mematikan.
Meski penularannya tidak secepat Covid-19, para ahli mengingatkan bahwa mobilitas manusia dan barang lintas negara tetap membuka celah virus ini masuk ke Indonesia, terutama lewat wilayah pelabuhan yang padat dan rawan tikus.
Dilansir dari Kompas.com, Senin (4/5/2026), kapal tersebut berada dalam perjalanan dari Ushuaia, Argentina menuju Tanjung Verde, Afrika.
Hantavirus merupakan virus langka yang ditularkan melalui hewan pengerat. Dari enam orang yang terdampak, tiga meninggal dunia dan satu lainnya dirawat di unit perawatan intensif (ICU).
WHO menyebut satu kasus telah terkonfirmasi, sementara lima lainnya masih dalam tahap dugaan. Saat ini, investigasi lanjutan termasuk pemeriksaan laboratorium dan analisis epidemiologi masih berlangsung.
Hantavirus merupakan penyakit langka yang dapat menular melalui paparan kotoran atau urin hewan pengerat dan berpotensi fatal dalam kasus berat.
Lantas, apakah hantavirus berpotensi masuk ke Indonesia? Dan bagaimana penularannya?
Baca Juga: Perang AS-Iran Bikin Harga BBM Pertamina Berubah 3 Kali, Ini Rinciannya
Apa Itu Virus Hanta?
Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menjelaskan, hantavirus adalah penyakit zoonosis akut dengan fatalitas kematian bisa mencapai 40 persen.
“Hantavirus adalah penyakit zoonosis akut, dengan fatalitas atau kematian bisa sampai 40 persen,” kata Dicky ketika dihubungi Kompas.com pada Rabu (6/5/2026).
Dicky mengatakan, berdasarkan karakteristik epidemiologisnya, reservoir utama dari virus tersebut adalah tikus atau mencit.
Penularannya berasal dari aerosol urin atau feses tikus, serta kontaminasi lingkungan tertutup. Hal inilah yang membuat lokasi kapal pesiar menjadi sangat berisiko.
Namun, Dicky menegaskan bahwa penularan antar manusia tidak dominan.
“Tapi secara umum, dia tidak dominan penularan antar manusia, kecuali ada strain tertentu seperti Andes virus, tapi itu pun di Amerika Selatan,” kata Dicky.
Bukan Penularan Antar Manusia
Dicky menjelaskan bagaimana penularan hantavirus bisa terjadi di kapal pesiar.
"Sumber utamanya itu adalah tikus, bukan manusia. Penularan terjadi karena aerosol dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering terhirup, dari debu terkontaminasi di ruang tertutup, misalnya di gudang, kabin, ruang logistik," kata Dicky.
Dalam skenario tertentu, kapal dapat bersandar di pelabuhan dengan populasi tikus tinggi.
"Tikusnya masuk ke gudang makanan, ruang logistik, atau ventilasi yang tertutup sehingga aerosol terhirup oleh awak atau penumpang," kata Dicky.
Menurut Dicky, kondisi ini dapat terjadi bila standar sanitasi dan screening rodensia di pelabuhan lemah.
"Ini artinya mekanisme penularannya adalah lingkungan terkontaminasi terlebih dahulu oleh kotoran atau cemaran tikus tadi, terhirup, dan akhirnya terinfeksi manusianya," jelas Dicky.
Ia menegaskan, hantavirus berbeda dengan Covid-19.
"Dan ini bukan penularan antar penumpang secara masif, tidak. Beda dengan Covid-19. Jadi bukan seperti wabah penyakit infeksi saluran napas," lanjutnya.
Gejala akibat virus tersebut antara lain demam, fase paru akut, edema paru, pembengkakan, hingga syok.
Dicky mengatakan, karena tingkat kematiannya yang tinggi, pasien umumnya harus segera mendapatkan pertolongan di ICU.
Baca Juga: Pertalite Hilang di Sejumlah SPBU Jakarta, Ini Penjelasan Pertamina
Cara Penularan Hantavirus Menurut Epidemiolog
| Jalur Penularan | Penjelasan |
|---|---|
| Aerosol urin/feses tikus | Debu terkontaminasi terhirup di ruang tertutup |
| Kontaminasi lingkungan | Gudang makanan, kabin, ruang logistik |
| Tikus masuk dari pelabuhan | Risiko meningkat jika pelabuhan padat tikus |
| Penularan antar manusia | Tidak dominan (kecuali strain tertentu seperti Andes virus) |
Gejala dan Tingkat Bahaya Hantavirus
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Fatalitas | Bisa mencapai 40% |
| Gejala awal | Demam |
| Gejala berat | Sesak napas akut, edema paru, syok |
| Penanganan | Kasus berat umumnya butuh ICU |
Berita Terkait
-
![IPhone 17e Sudah Bisa Dibeli di Indonesia, Ini Harga dan Spesifikasinya]()
-
![Hanggar Pondok Cabe Jadi Basis MRO GMF AeroAsia, Perkuat Industri Aviasi Nasional]()
-
![Pendapatan ITMG Naik 3% Jadi US$ 497,57 Juta, Terdongkrak Volume Penjualan Batubara]()
-
![Transaksi QRIS Gagal? Ini Cara Lapor dan Mengamankan Saldo BCA yang Terpotong]()
-
![Mengenal Profil Kevin Warsh, Orang Kepercayaan Trump di Kursi Pemimpin The Fed]()
-
![Libur Kenaikan Yesus Kristus, Penumpang Kereta Tembus 196.302 Orang dalam Sehari]()
-
![Trump Puji Xi Jinping di Beijing, Bahas Gencatan Perang Dagang, Iran, dan Taiwan]()
-
![Investor Mulai Uji Ketahanan Ekonomi RI, Bukan Lagi Sekadar Angka Pertumbuhan]()
-
![Cek Panduan Beli Tiket Bioskop Online via Aplikasi GoPay untuk Pemula]()
-
Industri | 57 Menit lalu













