kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Hantavirus Disebut Bisa Mematikan hingga 40%, Apakah RI Termasuk Wilayah Rawan?


Kamis, 07 Mei 2026 / 06:01 WIB
Hantavirus Disebut Bisa Mematikan hingga 40%, Apakah RI Termasuk Wilayah Rawan?
ILUSTRASI. Kasus kematian misterius di kapal pesiar MV Hondius mendadak jadi sorotan dunia. (REUTERS/Stringer)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Apakah Bisa Berpotensi Masuk ke Indonesia?

Dicky mengatakan hantavirus bisa saja masuk ke Indonesia, namun risikonya rendah.

“Dan apakah ini bisa masuk ke Indonesia? Jawaban jujurnya, bisa saja, tapi risikonya rendah,” jelas Dicky.

Ia menegaskan, risiko tersebut bukan hanya berasal dari penumpang internasional, tetapi juga dari awak kapal serta pergerakan barang dan logistik.

Namun, hantavirus bukan penyakit yang ditularkan melalui udara secara efisien seperti influenza atau Covid-19.

“Ini bukan penyakit yang ditularkan melalui udara, sehingga penularannya tidak efisien, tidak cepat juga, dan perlu ada kontak dengan tikus ini,” tegas Dicky.

Dicky menilai risiko lebih besar bisa muncul di daerah pelabuhan padat seperti Tanjung Priok atau Batam, terutama jika sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.

Indonesia Termasuk Negara Risiko Endemik

Dicky mengatakan Indonesia termasuk negara dengan risiko endemik untuk penyakit yang ditularkan rodensia seperti tikus.

Beberapa penyakit yang sudah ada di Indonesia misalnya leptospirosis.

Ia juga menyoroti bahwa potensi infeksi hantavirus lokal bisa saja terjadi, namun belum banyak terdiagnosis.

“Masalah utamanya adalah surveillance Hanta virusnya belum kuat. Kemudian juga diagnosisnya sering tidak spesifik dan bisa overlap,” jelas Dicky.

Untuk itu, ia menyarankan agar memperkuat surveillance dan deteksi dini, serta memperketat screening di pelabuhan dan bandara.

“Travel history juga, sindrom adanya demam, sesak napas akut dan gagal paru harus dicurigai,” ujar Dicky.

Ia juga menyoroti pentingnya pengendalian rodensia, terutama di area pelabuhan serta pada kapal dan gudang penyimpanan.

Dicky kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak panik.

Tonton: Mobil dan Motor Listrik Masih Bebas Pajak di Jakarta

“Dalam konteks saat ini tidak perlu terlalu panik ya, walaupun memang fatalitasnya sudah ada yang meninggal, tapi ini tidak akan jadi pandemi global,” tegas Dicky.

Meski risiko hantavirus masuk ke Indonesia dinilai rendah, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat virus ini bisa berakibat fatal dan menular lewat paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus. Apalagi, wilayah pelabuhan dan kawasan logistik di Indonesia dikenal padat aktivitas sekaligus rentan masalah sanitasi. 

Karena itu, penguatan surveilans penyakit, deteksi dini kasus pneumonia berat yang tidak biasa, serta pengendalian rodensia di pelabuhan dan gudang menjadi langkah penting agar Indonesia tidak kecolongan, tanpa harus memicu kepanikan publik.

Titik Rawan Masuknya Hantavirus ke Indonesia

Titik Rawan Alasannya
Pelabuhan internasional (Tanjung Priok, Batam) Mobilitas tinggi, risiko tikus meningkat
Gudang logistik Ruang tertutup rawan kontaminasi aerosol
Kapal dan kontainer Potensi tikus terbawa dari pelabuhan lain
Area perkotaan padat Populasi tikus lebih tinggi

(Fatimah Az Zahra, Albertus Adit)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/06/114500965/epidemiolog-jelaskan-potensi-penularan-hantavirus-di-indonesia-perlukah?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×