Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Konflik geopolitik yang terjadi di Venezuela berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi di dalam negeri. Risiko tersebut muncul seiring dengan kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek akibat eskalasi tensi global.
Dampak kenaikan harga minyak dinilai akan lebih terasa pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, mengingat Indonesia masih berstatus sebagai negara net importir minyak.
Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela sempat memicu kenaikan harga minyak dunia sekitar US$ 2 per barel dibandingkan posisi sebelum peristiwa tersebut. Meski demikian, lonjakan harga itu dinilai bersifat sementara.
Menurut Ishak, pengaruh konflik Venezuela terhadap pasar minyak global relatif terbatas. Pasalnya, produksi minyak Venezuela saat ini berada di bawah 1 juta barel per hari atau kurang dari 1% total produksi minyak dunia. Selain itu, pasokan minyak global masih berada dalam kondisi surplus.
“Lagi pula kawasan tersebut tidak terlalu memengaruhi jalur perdagangan migas global seperti halnya Selat Hormuz,” ujar Ishak kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, jika proses transisi pemerintahan di Venezuela dapat berjalan lancar dan diikuti dengan peningkatan investasi di sektor hulu migas, tekanan terhadap harga minyak dunia justru berpotensi mereda seiring dengan meningkatnya produksi.
Baca Juga: Nataru 2025/2026: Konsumsi Bensin Lesu Meski Mobilitas Tinggi, Apa Sebabnya?
Namun bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia—meskipun bersifat jangka pendek—tetap berisiko mengerek biaya logistik dan transportasi. Kondisi ini pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen, terutama pada BBM nonsubsidi.
Selain itu, Ishak menilai kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Apabila tekanan harga berlangsung lebih lama, dampaknya dapat merembet ke beban anggaran subsidi dan kompensasi energi.
“Secara umum pengaruhnya masih moderat selama tidak terjadi eskalasi lanjutan, seperti meluasnya konflik ke negara lain atau gangguan produksi yang lebih besar di negara eksportir minyak lainnya,” kata Ishak.
Seperti diberitakan sebelumnya, Bloomberg melaporkan operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Operasi tersebut dilaporkan berlangsung kurang dari tiga jam dan melibatkan lebih dari 150 pesawat militer AS setelah sistem pertahanan udara Venezuela dilumpuhkan.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi operasi tersebut pada Sabtu (3/1/2026) dan mengklaim menyaksikan langsung jalannya operasi melalui siaran langsung.
Baca Juga: Pekerja 5 Sektor Ini Nikmati PPh 21 DTP Gratis di 2026, Simak Rincian & Persyaratan
Di tengah eskalasi geopolitik tersebut, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan bahwa aset dan kegiatan operasional perusahaan afiliasinya di Venezuela tetap berjalan aman.
Manager Relations PIEP, Dhaneswari Retnowardhani, menyampaikan bahwa PIEP merupakan pemegang saham mayoritas Maurel & Prom (M&P) dengan kepemilikan sebesar 71,09%. Salah satu aset yang dikelola M&P berada di Venezuela.
“Berdasarkan pemantauan hingga saat ini, tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf Maurel & Prom di Venezuela,” ujar Dhaneswari dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, PIEP terus memantau perkembangan situasi secara intensif serta menjalin koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas guna memastikan keselamatan personel dan keberlangsungan operasional aset hulu migas yang dikelola melalui Maurel & Prom di Venezuela.
Tonton: Trump Gemar Intervensi Negara Lain, Ini Dia Jejaknya
Kesimpulan
Konflik geopolitik di Venezuela berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek, yang bagi Indonesia dapat berdampak pada meningkatnya biaya logistik, transportasi, serta harga BBM nonsubsidi. Meski pengaruhnya dinilai masih terbatas karena produksi Venezuela relatif kecil dan pasokan minyak global dalam kondisi surplus, risiko terhadap defisit transaksi berjalan dan beban anggaran energi tetap perlu diwaspadai apabila eskalasi konflik berlanjut atau berlangsung lebih lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












