Walau pinjaman melonjak, Industri fintech P2P mampu pertahankan kualitas pembiayaan

Jumat, 10 September 2021 | 10:25 WIB   Reporter: Selvi Mayasari
Walau pinjaman melonjak, Industri fintech P2P mampu pertahankan kualitas pembiayaan

Sementara itu, PT Pasar Dana Pinjaman atau Danamas mengaku, hingga Agustus 2021, NPL Danamas dari total penyaluran pinjaman usaha secara kumulatif berada di angka 1,6% dengan TKB90 berada di angka 98,4% atau membaik dibandingkan di bulan sebelumnya. Hingga akhir Agustus 2021, Danamas juga berhasil menyalurkan total pinjaman usaha sebesar Rp 4,9 triliun.

Direktur Utama PT Pasar Dana Pinjaman atau Danamas Dani Lihardja menjelaskan, strategi Danamas dalam mengantisipasi Kredit macet, adalah dengan melakukan verifikasi yang lebih ketat ke perusahaan/ekosistem yang ingin bekerjasama dengan Danamas.  

"Dalam upaya menahan kredit macet, jika ada produk baru, manajemen resiko harus lebih diperketat baik dari internal atau bekerjasama dengan Lembaga Verifikasi bersertifikat, selain itu melakukan evaluasi kepada partner bisnis secara berkala sehingga pinjaman yang dilakukan dibatasi sesuai dengan kemampuan keuangan partner terkait, juga bekerjasama dengan perusahaan asuransi untuk menekan NPL yang dinilai berpotensi terjadi terhadap pinjaman tertentu," ungkap Dani.

Dani menyebut, untuk saat ini industri yang menjadi perhatian Danamas adalah industri logistik karena di masa pandemi ini transaksi online memiliki pasar yang  potensial, bisnis ini memiliki kans terbesar  untuk menguasai semua lini perekonomian Indonesia.

Dengan jangkauan yang cukup luas dimana Danamas memiliki 23 kantor representative yang berada di semua kota besar di Indonesia akan sangat membantu pembiayaan kepada pelaku UMKM. "Danamas berencana akan melakukan pembiayaan tempat tinggal," kata Dani.

Baca Juga: Di tengah pandemi, pembiayaan produktif fintech kian melonjak

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) juga menyatakan, hingga Agustus 2021, Amartha telah berhasil menyalurkan pinjaman senilai Rp 4.38 triliun kepada 789,226 mitra pengusaha mikro di desa yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Dengan TKB90 berada di angka 99.89% dan NPL berada di angka 0,07%.

Sepanjang tahun 2021, Amartha menunjukan kinerja yang sehat dengan menjaga stabilitas NPL. Amartha telah menyalurkan dana mencapai Rp 914 miliar rupiah di paruh pertama tahun 2021, atau tumbuh 35% secara year-on-year (yoy).

CEO dan Founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengaku, dalam mendorong perempuan pengusaha mikro mendapatkan akses pinjaman yang ramah dan membangun histori kredit di masa mendatang, Amartha membangun sistem credit scoring berbasis machine learning untuk menyeleksi calon penerima pinjaman. 

"Sistem credit scoring Amartha memakai algoritma yang dibangun berdasarkan indikator bahwa, riwayat pembayaran sebelumnya (untuk pengajuan pinjaman lanjutan), kehadiran dalam pertemuan kelompok, ketepatan waktu pembayaran serta analisis psikometri, dan pendekatan ini terbukti efektif sehingga Amartha mampu menjaga tingkat keterlambatan pembayaran," ujar Andi.

Selain itu kata Andi, secara kualitatif, Amartha juga mengembangkan analisa kemampuan membayar calon penerima pinjaman melalui tes psikometri yang dimodelkan dengan pendekatan machine learning, sehingga dari analisa perilaku ini dapat dibuatkan pemetaan kelayakan yang berguna dalam menghasilkan skor kredit yang lebih akurat. Skor kredit ini juga bersifat dinamis, dimana setiap terjadi perubahan indikator penerima pinjaman, maka skor kredit yang bersangkutan juga akan ter-update secara otomatis.

Tidak hanya melakukan antisipasi kredit macet di tahap credit scoring, Amartha juga memberlakukan konsep monitoring offline untuk melakukan kolektif dana pinjaman dari mitra yang sudah bergabung.

"Kami memiliki lebih dari 2.800  Business Partner atau pekerja lapangan yang bertugas untuk mendampingi mitra UMKM, memberikan pelatihan dan edukasi, hingga kolektif dana pinjaman yang dilakukan secara berkala. Kehadiran Business Partner di lapangan secara langsung dapat memonitor perkembangan bisnis mitra kami dan mengurangi risiko kredit macet," tambah Andi.

Editor: Handoyo .
Terbaru