kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.963   51,00   0,28%
  • IDX 6.027   -44,02   -0,73%
  • KOMPAS100 778   -6,50   -0,83%
  • LQ45 596   -4,88   -0,81%
  • ISSI 209   -1,63   -0,77%
  • IDX30 330   -2,59   -0,78%
  • IDXHIDIV20 421   -3,15   -0,74%
  • IDX80 89   -0,76   -0,84%
  • IDXV30 114   -0,62   -0,54%
  • IDXQ30 108   -0,54   -0,50%

Telan investasi Rp 36,4 triliun, bagaimana nasib proyek pipa gas trans Kalimantan?


Senin, 09 November 2020 / 07:40 WIB

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembangunan pipa gas bumi Trans Kalimantan sudah masuk ke dalam daftar proyek prioritas strategis (major project) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Kendati begitu, realisasi proyek ini tampaknya masih panjang dan berliku.

Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Jugi Prajogio menyampaikan, hingga sekarang, proyek pipa gas bumi Trans kalimantan masih dalam tahap harmonisasi antara lembaga pemerintah. Antara lain BPH Migas Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian dan Bappenas. Harmonisasi tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi besaran pasokan gas dan juga permintaan setelah proyek tersebut dibangun.

Jugi mengakui, apabila kepastian pasokan raw gas belum ada, maka proyek ini bakal terhambat. "Masih berlangsung sekarang ini, jika belum ada kepastian pasokan raw gas akan menghambat transkal ini," kata Jugi saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (8/11).

Baca Juga: Menanti kejelasan proyek pipa gas Cirebon-Semarang

Jugi bilang, harmonisasi tersebut  juga diperlukan untuk menetapkan design pipa yang paling efisien, yang nantinya akan masuk ke dalam Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional (RIJTDGBN). "Harmoninasi akan menetapkan design pipa yang paling efisien, dan tentunya redesign pipa ini harus masuk di rencana induk yang terkini," ujarnya.

Adapun, proyek pipa gas bumi Trans Kalimantan ini dibagi ke dalam tiga wilayah besar. Pertama, konsesi Kalimantan Timur (Kaltim) - Kalimantan Selatan (Kalsel) yang dimenangkan oleh Bakrie Group atau PT Bakrie & Brother. Kedua, ruas Senipah - Balikpapan yang digunakan untuk kebutuhan kilang Pertamina.

Ketiga, ruas Kalimantan Barat (Kalbar) - Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalsel yang sampai sekarang belum dilelang.

Menurut Jugi, lelang dilakukan menunggu rampungnya harmonisasi, lantaran hal itu akan berpengaruh terhadap kelayakan proyek yang menarik minat investor.

Sayangnya, Jugi masih belum bisa memperkirakan kapan ruas tersebut akan dilelang dan proyek Trans Kalimantan bisa teralisasikan. "Masih belum jelas. Intinya badan usaha akan bangun jika proyek layak. Proyek feasible jika return bisa menutupi capex, opex dan biaya lainnya," jelas Jugi.

Begitu pun saat disinggung terkait dengan ruas pipa Kaltim-Kalsel yang telah dimenangkan oleh Bakrie. Jugi menyebut, besaran pasokan dan demand masih jadi kendala proyek pipa transmisi tersebut. "Tidak ada kejelasan pasokan gas, sedangkan yang sudah jelas baru demand dengan jumlah terbatas," sebut Jugi.

Baca Juga: Nasib proyek pipa Cisem terganjal revisi rencana induk



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×