Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajemen PT Saracentral Bajatama Tbk (BAJA) sepakat menargetkan torehan laba sebesar Rp 150 miliar- Rp 200 miliar hingga penghujung tahun nanti. Jumlah itu meningkat lebih dari 200% dari laba perseroan di tahun lalu yang sebesar Rp 55,11 miliar.
Saracentral Bajatama memang belum merilis secara resmi kinerja keuangan semester I-2021. Namun Handaja Susanto, Direktur Utama BAJA bilang, hingga akhir Juni lalu perseroan telah membukukan laba net sekitar Rp 100 miliar. "Dibandingkan tahun lalu, laba net kami naik tiga sampai empat kali lipat," ujar Handaja saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (9/8).
Pertumbuhan pada kinerja laba, diikuti dengan melesatnya pendapatan BAJA di paruh pertama tahun ini.
Baca Juga: Mendag: Indonesia alami tren peningkatan ekspor
Handaja berujar, secara tahunan atau yoy, pendapatan usaha BAJA di semester I-2021 tercatat meningkat 22,74% menjadi Rp 724 miliar. Adapun, berdasarkan laporan keuangan perseroan, perusahaan ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 589,84 miliar pada semester I-2020.
Demi mempertahankan kinerja positif yang telah diraih, BAJA pun senantiasa menjalankan sejumlah strategi khusus. Seperti misalnya menjaga hubungan bisnis yang baik dengan para pelanggan dan seluruh stakeholder, dan juga optimalisasi produksi. "Hubungan bisnis yang baik dengan seluruh stakeholder adalah kunci dari keberhasilan bisnis," paparnya.
Sebagaimana diketahui, kapasitas produksi BAJA yang terpakai saat ini baru mencapai level 60%-70%. Sehingga perseroan pun menargetkan peningkatan utilisasi ke level 80%-90% di paruh kedua tahun ini.
"Dengan dukungan seluruh stakeholder dan terutama dukungan kebijakan pemerintah terhadap industri dalam negeri, maka BAJA mentargetkan peningkatan utilisasi sebesar 20% dari semester pertama," jelas Handaja.
Tak hanya itu, strategi product mix juga diterapkan oleh perseroan untuk menjaga capaian positif yang telah diraih di tahun ini. Dia menyebut, strategi ini telah berhasil meningkatkan kinerja perseroan di paruh pertama 2021.
Handaja menjelaskan, secara year to date Juni 2021 persentase penjualan produk Saranalum tercatat mencapai 88% dari total penjualan atau sebanyak 42.000 ton. Sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, hanya mencapai 67% atau 32.000 ton.
Peningkatan volume penjualan produk Saranalum, disebut Handaja telah berdampak positif terhadap capaian laba perseroan di tahun ini. Sehingga secara konsisten strategi product mix ini akan terus dijalankan perseroan hingga akhir tahun nanti. "Peningkatan persentase tonase Saranalum berdampak terhadap peningkatan laba yang melampaui target, walaupun secara tonase penjualan total lebih kurang sama dengan tahun lalu," jelasnya.
Dia menilai, peningkatan volume penjualan produk Saranalum tak lepas dari kebijakan pemerintah dalam mendukung industri dalam negeri. Terutama kebijakan impor terhadap produk-produk yang tidak sesuai dengan standar SNI.
Di tahun ini, BAJA belum berencana mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex). Sebab, BAJA masih akan fokus terhadap pengoptimalan utilisasi mesin terlebih dahulu. Hingga Maret lalu, perusahaan ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 376,48 miliar. Jumlah itu meningkat 7,97% dari pendapatan usaha pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp 348,68 miliar.
Peningkatan pada pendapatan usaha, turut berdampak terhadap torehan laba tahun berjalan BAJA di kuartal I-2021. Tercatat, BAJA berhasil meraup laba sebesar Rp 42,92 miliar. Sementara pada kuartal I-2020 perusahaan ini masih mengalami kerugian hingga Rp 99,38 miliar.
Selanjutnya: Ekonomi kuartal II-2021 tumbuh tinggi, tahun lalu jeblok atau memang sudah pulih?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













