Proyek RDMP Balikpapan sudah mencapai 43,28%

Jumat, 05 November 2021 | 12:30 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Proyek RDMP Balikpapan sudah mencapai 43,28%

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan Pertamina di Kalimantan Timur.


KONTAN.CO.ID - BALIKPAPAN. PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Balikpapan (PT KPB) terus menggenjot proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Salah satu bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ini ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2024.

Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Suwahyanto menerangkan bahwa proyek RDMP ini akan mendongkrak kapasitas pengelolaan produk di Kilang Balikpapan dari 260 kilo barrel per day/kbpd (ribu barel per hari) menjadi 360 kbpd.

Tak hanya kenaikan kapasitas produksi, proyek RDMP ini juga untuk meningkatkan kualitas produk menjadi standar Euro V. Menurut Suwahyanto, peningkatan standar kualitas produk sangat penting untuk memenuhi tuntutan produk berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan.

"Utamanya untuk memenuhi spesifikasi bahan bakar di tahun 2024 nanti, dimana sudah diharuskan minimal setara dengan Euro IV. Untuk itu, di (Kilang) Balikpapan dirancang dapat menghasilkan kualitas Euro V, mengantisipasi kalau nanti ada requirements yang meningkat lagi dari pemerintah karena keikutsertaan Indonesia untuk menjaga kualitas udara dan iklim dunia," terang Suwahyanto saat kunjungan media di Kilang Balikpapan, Kamis (4/11).

Baca Juga: Capai kemajuan, alat propylene splitter di proyek RDMP Balikpapan resmi dipasang

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Balikpapan Feri Yani menjelaskan bahwa selain meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari, proyek RDMP Balikpapan bertujuan meningkatkan kompleksitas kilang dari 4.4 menjadi 8.8.

Kompleksitas tersebut dihitung melalui Nelson Complexity Index (NCI). Adapun NCI merupakan ukuran kecanggihan kilang minyak. Kilang yang lebih kompleks mampu menghasilkan produk yang lebih bernilai, lebih halus dan ringan dari setiap barel minyak yang diolah.

Dengan peningkatan kompleksitas kilang ini, kapasitas pengolahan produk turunan selain BBM pun bertambah. Selain LPG, Kilang Balikpapan juga bisa menggarap produk propylene sebagai bahan baku pabrik petrokimia.

Dengan proyek RDMP ini, produksi non-BBM di Kilang Balikpapan bisa meningkat menjadi 905 kilo tonnes per annum (KTPA) dibandingkan 46 KTPA dari posisi sebelum upgrading. "Ketika ini beroperasi (produksi propylene) akan memberikan nilai tambah bagi Kilang Balikpapan," ujar Feri Yani.

Sebagai informasi, total nilai investasi proyek RDMP Balikpapan ini diestimasikan mencapai sekitar US$ 7 miliar. Meski kapasitas dan kompleksitas kilang meningkat, tapi KPB berkomitmen untuk memenuhi penyerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di proyek RDMP Balikpapan dengan serapan minimal 30%.

Progres Proyek 43,28%

Saat ini, KPB bersama Joint Operation (JO) kontraktor terus mengebut pengerjaan RDMP Balikpapan. Feri Yani menjelaskan, ada beberapa lingkup pengerjaan yang dilakukan. Yakni early work fase 1 dan fase 2, EPC (Engineering, Procurement and Construction) Inside Battery Limit (ISBL) dan Outside Battery Limit (OSBL), serta EPC terminal crude oil Lawe-Lawe.

Adapun EPC ISBL dan OSBL dikerjakan oleh JO SK E&C, Hyundai Engineering, PT Rekayasa Industri dan PT PP. Dalam lingkup proyek ini, fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) ditargetkan rampung pada Maret 2024.

Sedangkan untuk ekspansi pembangunan terminal crude oil di Lawe-Lawe digarap oleh JO China Petroleum Pipeline dan PT Hutama Karya. Proyek ini membangun unit baru dan fasilitas dua tanki crude dengan kapasitas masing-masing 1 juta barrel. EPC Lawe-lawe memiliki target operasi pada Februari 2023.

Secara keseluruhan, Feri Yani menyampaikan, hingga bulan Oktober lalu, progres proyek RDMP Balikpapan mencapai 43,28%. Hasil ini lebih tinggi 0,25% dari target re-forecast sebesar 43,03%.

Dia menjelaskan, hasil tersebut didukung oleh percepatan delivery peralatan Long Lead Item (LLI) yang mayoritas telah tiba di Balikpapan tahun 2021.

Asal tahu saja, LLI merupakan paket peralatan yang keseluruhan prosesnya memerlukan waktu yang cukup lama, mulai dari pengadaan, manufaktur hingga sampai ke lokasi proyek di Balikpapan.

Baca Juga: Hingga kuartal III-2021, investasi migas baru mencapai 53,95% dari target

LLI yang berhasil dipasang dalam proyek RDMP Balikpapan adalah ’Column Propane-Propylene Splitter’ (C3 Splitter), peralatan penting yang berfungsi memisahkan senyawa propylene dan propane, sehingga dapat dihasilkan produk Propylene dengan kemurnian sangat tinggi dan memenuhi syarat sebagai bahan baku pabrik petrokimia Poly Propylene di Balongan.

Menurut Feri Yani, KPB sudah mencapai sejumlah milestones dalam melakukan kegiatan konstruksi di lapangan, yang meliputi kegiatan sipil, mekanikal, piping, elektrikal maupun lifting peralatan-peralatan dengan dimensi besar ke pondasi yang telah disiapkan.

Percepatan tersebut selaras dengan peak construction RDMP Balikpapan yang diestimasi terjadi pertengahan tahun 2022.

Di sisi lain, Suwahyanto mengakui bahwa pandemi covid-19 yang merebak pada tahun lalu sempat menghambat pengerjaan proyek RDMP Balikpapan.

"Seluruh dunia terkena imbas pandemi, sehingga dari rencana awal mengalami pergeseran penyelesaian karena peralatan yang dibeli KPB tidak bisa dimanufaktur dengan tepat waktu serta isu lockdown sehingga tidak bisa mengerahkan orang banyak untuk bekerja," ungkapnya.

Kendati begitu, Suwahyanto optimistis pihaknya bisa memenuhi target untuk merampungkan proyek sesuai dengan re-forecast yang sudah ditetapkan. Adapun RDMP Balikpapan ini ditargetkan menyelesaikan pembangunan dan mengoperasikan Utilities Complex yang baru pada tahun 2023.

Selanjutnya, RFCC dan Alkylation Complex di periode Semester I-2024 dan unit penghasil HOMC (BBM berkadar RON tinggi) pada Semester II 2024.

"Jadi kami mendapatkan amanah untuk unit penghasil Pertamax series itu sudah beroperasi di Maret 2024. Sedangkan untuk unit penghasil HOMC di akhir tahun 2024," pungkas Suwahyanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto

Terbaru