Perihal pembentukan holding BUMN panas bumi, ini kata PLN dan Pertamina

Senin, 22 Februari 2021 | 07:00 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Perihal pembentukan holding BUMN panas bumi, ini kata PLN dan Pertamina


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah membentuk holding BUMN Panas Bumi (geothermal). PT PLN (Persero) dan Pertamina pun sedang bersiap untuk membentuk holding tersebut.

Direktur Mega Proyek PLN M. Ikhsan Assaad mengkonfirmasi hal tersebut dan mengatakan bahwa pembahasan masih terus dilakukan. "PLN dan Pertamina memang sedang mempersiapkan pembentukan holding geothermal. Masih dalam pembahasan," kata Ikhsan kepada Kontan.co.id, Sabtu (20/2).

Saat ini, sinergi antara kedua anak usaha perusahaan energi plat merah itu sedang berlangsung. Ikhsan bilang, PLN Gas & Geothermal (PLN GG) dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) tengah melakukan joint study untuk pengembangan panas bumi di Lahendong dan Ulu Belu.

Baca Juga: Akselerasi energi terbarukan, Geo Dipa Energi sambut holding BUMN panas bumi

Dihubungi terpisah, Direktur Operasi PLN GG Yudistian Yunis menambahkan bahwa pembahasan terkait holding dilakukan oleh Kementerian BUMN, dengan melibatkan PLN, Pertamina dan Geo Dipa.

Sebagai anak usaha PLN di bidang panas bumi, sambung Yunis, PLN GG siap mendukung hasil pembahasan dalam pembentukan holding tersebut. "Saat ini sedang membahas opsi mekanisme penggabungan usaha panas bumi yang ada," kata Yunis.

Menurutnya, hal ini penting untuk mengakselerasi dan mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi yang melimpah di Indonesia. Pasalnya, baru sekitar 8% energi panas bumi yang termanfaatkan untuk tenaga listrik, dari total potensi yang teridentifikasi.

Mengenai pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), pada tahun ini PLN GG berencana untuk melaksanakan operasi dan pemeliharaan untuk tiga PLTP.

Yakni PLTP Lahendong berkapasitas 4 x 20 Megawatt (MW), PLTP Ulumbu (4 x 2,5 MW) dan PLTP Mataloko (1 x 2,5 MW).

Selain itu, PLN GG juga melakukan joint study bersama PGE dan Geo Dipa untuk mengembangkan PLTP Binary dengan total kapasitas 30 MW pada lokasi-lokasi PLTP eksisting yang berada di Lahendong, Ulubelu dan Dieng, serta eksplorasi di area Candradimuka.

Mengenai pembentukan holding panas bumi BUMN, Manager Government and Public Relation PGE Sentot Yulianugroho belum bisa memberikan komentar mengenai rencana tersebut.

Baca Juga: Wamen BUMN Pahala: Holding Geothermal diisi PGE, Geo Dipa, dan PLN Geothermal

Yang pasti, Sentot mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan kerjasama dalam pengembangan panas bumi, baik bersama BUMN maupun pihak swasta.

Selain dengan PLN GG, saat ini PGE juga sedang melakukan joint study dengan Medco Power yang dilakukan secara terpisah untuk mengembangkan wilayah kerja PGE, wilayah kerja PLN, maupun wilayah kerja Medco.

"(Joint study) sejak akhir tahun 2020. Kelanjutan kerjasamanya akan menunggu hasil joint study dan persetujuan masing-masing korporasi," ungkap Sentot.

Sebelumnya, Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury mengonfirmasi pembentukan holding BUMN panas bumi tersebut. Rencananya holding tersebut akan diisi oleh tiga perusahaan plat merah yang selama ini menggarap bidang pengembangan dan pengoperasian panas bumi.

Ketiganya adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT Geo Dipa Energi (Persero), dan PT PLN Geothermal. "Kami memang memiliki rencana untuk menggabungkan aset geothermal dari ketiganya. Institusi gabungan nanti akan dimiliki bersama Pertamina, PLN dan pemerintah sehingga bisa diperoleh sinergi yang optimal," kata Pahala saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (19/2).

Dengan begitu, akan ada integrasi dari keunggulan pengembangan (drilling), transmisi energi ke pengguna, maupun dari sisi pendanaan. Lebih lanjut, Pahala mengklaim bahwa holding ini akan menjadi perusahaan dengan kepemilikan kapasitas PLTP terbesar di dunia.

Baca Juga: Bakal jadi terbesar di dunia, Holding BUMN panas bumi ditargetkan terbentuk tahun ini

"Gabungan perusahaan geothermal akan menjadi terbesar di dunia dalam installed capacity pembangkit geothermal. Ini merupakan inisiatif pengembangan baru dan terbarukan," sambung Pahala.

Sayangnya, dia belum membeberkan tahapan yang sedang berjalan dalam pembentukan holding tersebut. Pahala pun masih enggan membuka siapa induk usaha holding panas bumi BUMN ini.

Yang pasti, pembahasan terkait pembentukan holding ditarget rampung tahun ini. "Iya, 2021," sebut Pahala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto

Terbaru