Perang Rusia-Ukraina Berpeluang Besar Meletus, Hanya Jerman yang Bisa Menghentikannya

Senin, 31 Januari 2022 | 11:41 WIB Sumber: The New York Times,Express.co.uk
Perang Rusia-Ukraina Berpeluang Besar Meletus, Hanya Jerman yang Bisa Menghentikannya


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina yang meningkat memiliki peluang sebesar 80% untuk meletus menjadi konflik besar-besaran pada akhir Februari. Hal itu diungkapkan oleh mantan Panglima Angkatan Darat AS Ben Hodges.

Melansir Express.co.uk, Rusia sejauh ini menolak untuk menghentikan kedatangan ribuan tentara yang saat ini berkumpul di perbatasan bersama dengan Ukraina. Alasannya, Rusia khawatir tentang ekspansi NATO sebagai pembenaran atas sikap bermusuhan itu. 

Sementara itu, Kiev telah mendesak AS dan anggota Eropa NATO untuk berdiri di sisinya demi menghindari upaya invasi lebih lanjut, seperti yang terjadi pada pencaplokan Krimea pada tahun 2014. 

Namun meskipun Moskow bersikeras mereka tidak menginginkan perang, mantan kepala Angkatan Darat AS di Eropa Letnan Kolonel Ben Hodges memperingatkan kemungkinan pertempuran kecil yang berkembang menjadi "perang panas" mencapai sekitar 80% saat ini.

Baca Juga: Isu Ukraina Berpotensi Kerek Tarif Listrik, Jerman Akan Pangkas Retribusi Tagihan

"Jika Anda harus bertaruh bahwa ini akan menjadi perang panas, dalam waktu dekat, ya atau tidak?" tanya Presenter LBC Matt Frei.

"80 persen," jawab Letnan Kolonel Hodges seperti yang dikutip express.co.uk.

Hodges menambahkan, akan terjadi invasi oleh Rusia, tetapi tidak secara keseluruhan, melainkan hanya sebagian kecil dari Ukraina.

"Satu-satunya hal yang akan menghentikannya adalah jika Jerman dan seluruh Eropa 100% melawan apa yang dilakukan Rusia. Jerman adalah kuncinya."

Baca Juga: Pentagon Sebut Serangan Rusia ke Ukraina Bakal Sangat Mengerikan

Presenter LBC Matt Frei kemudian bertanya lagi, "Dan mereka tidak melakukannya sekarang karena menjual mesin cuci Miele lebih penting daripada prinsip-prinsip kebebasan, seperti yang dikatakan beberapa orang kepada saya?"

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru