kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Pemerintah Telah Gelontorkan Rp 211,7 Triliun untuk Pembayaran Bunga Utang


Senin, 31 Juli 2023 / 07:30 WIB

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Menurutnya, kebutuhan pembiayaan yang besar pada tahun ini menyebabkan bunga utang pemerintah tahun depan semakin tinggi. Misalnya saja untuk pembiayaan infrastruktur menjelang tutup tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

“Pembiayaan untuk infrastruktur misalnya untuk mengejar agar pembiayaan infrastruktur ini dapat mendorong realisasi pembangunan infrastruktur sebelum tutup tahun, sehingga kebutuhannya besar,” tutur Bhima.

Faktor lain, adanya tekanan kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau anggaran belanja pegawai yang meningkat, juga menjadi penyebab penambahan beban utang negara.

Baca Juga: Utang Pemerintah Capai Rp 7.805 Triliun Didominiasi SBN, Ini Kata Ekonom

Selain itu, pemerintah juga masih harus membayar utang jatuh tempo dengan menerbitkan utang baru, yang pada akhirnya akan berkorelasi pada keniakan beban bunga utang tahun depan.

Bhima juga melihat, postur belanja APBN yang dirancang untuh 2024 cenderung populis. 

“Anggaran perlinsos yang besar mau dibayar pakai apa kalau bukan nambah utang baru? Risiko kenaikan beban bunga utang itu akan mempersempit ruang fiskal, di tengah rasio pajak yang masih tertekan khususnya pasca pandemi. Jadi agak sulit mencapai rasio pajak di atas 11%,” kata Bhima.

Bhima khawatir, harga komoditas yang semakin melemah akan memengaruhi kemampuan pemerintah untuk membayar bunga utang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×