Pemain pinjol cari cara untuk lebih efisien dalam menjalankan bisnis

Jumat, 26 November 2021 | 09:15 WIB   Reporter: Selvi Mayasari
Pemain pinjol cari cara untuk lebih efisien dalam menjalankan bisnis

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan bunga financial technology (fintech) sepertinya akan berpengaruh terhadap daya tarik para lender untuk menempatkan dana di fintech. Akibat dampak dari pengurangan bunga pinjaman, kabarnya bunga yang ditawarkan ke lender akan dikurangi, perusahaan juga terus mencari cara untuk lebih efisien dalam menjalankan bisnis.

CEO & Co-Founder Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan mengatakan, platform fintech lending akan berusaha untuk menjadi sustainable, termasuk Akseleran. Selain dengan memastikan operasi perusahaan berjalan dengan efisien, platform juga mengoptimalkan pendapatan, dengan mengambil fee dari borrower dan lender.

"Fee lender ini lah yang mengurangi bunga yang diterima oleh lender, selain memang suku bunga yang mungkin juga berkurang yang diterapkan kepada borrower," kata Ivan kepada kontan.co.id, Rabu (24/11).

Ivan menjelaskan, di Akseleran ada pengurangan bunga kepada lender dari sebelumnya rata-rata 12%-13,5% per tahun, sekarang menjadi sekitar 12% per tahun, dan ada beberapa yang 10,5% per tahun.

Baca Juga: Menggenjot pembiayaan mikro, Cashlez dan Lumbung Dana berkolaborasi

Sementara itu, dalam mengurangi bunga kredit, perusahaan menerapkan strategi dari sisi operasional, seperti belanja pegawai dilakukan dengan optimal, begitu juga dengan penggunaan tanda tangan digital, credit scoring, infrastruktur IT semua juga dioptimalisasikan.

"Optimalisasi ini bukan berarti pakai yang murahan, sebab yang murahan kualitasnya belum tentu baik. Optimalisasi berarti kita memastikan kita mempunyai talent dan infrastruktur yang tepat guna," ujar Ivan.

Di sisi lain, Andi Taufan Garuda Putra, CEO Amartha mengaku, mengenai imbal hasil ke lender, sejauh ini di Amartha belum ada perubahan kebijakan yang menyatakan ada pengurangan besarannya. Jadi masih tetap di 11%-15% flat per tahun, mengikuti credit scoring dari mitra yang didanai.

"Sementara kalau dr sisi bisnis, biaya operasional pastinya berkurang karena karyawan menjalankan sistem kerja WFH. Sedangkan pengurangan bunga kredit, saat ini Amartha tetap menerapkan credit scoring yang kompetitif, dan tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan OJK," jelas Andi.

Amartha memastikan bunga yg dibebankan kepada mitra sesuai dengan kemampuan bayarnya, sehingga mitra tidak mengalami overdebt. Selain itu, Amartha juga mulai mengembangkan aplikasi Amartha+ yang dapat digunakan para borrower. Aplikasi ini menyediakan fitur transaksi online seperti pembelian pulsa, pencatatan pembayaran, dan fitur belanja borongan atau PPOB.

Baca Juga: Transaksi digital banking diprediksi bisa mencapai Rp 48.000 triliun pada tahun 2022

"Amartha+ ke depannya diharapkan dapat mengurangi porsi sistem offline di Amartha, yang mana saat ini masih berada di porsi 50:50 dengan yang online," katanya.

Menurut Andi, dengan adanya aplikasi ini, tenaga manusia yang selama ini melayani transaksi keuangan di kalangan mitra Amartha, dapat terbantu sehingga bisa lebih produktif dalam melayani mitra. "Dampak jangka panjangnya, tentu saja mengurangi beban biaya operasional yang masih bersifat offline," ujar Andi.

Editor: Tendi Mahadi
Terbaru