Pada bulan lalu, semua jenis unitlink kompak catatkan kinerja positif

Rabu, 10 November 2021 | 06:45 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Pada bulan lalu, semua jenis unitlink kompak catatkan kinerja positif

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki kuartal terakhir tahun ini, kinerja unitlink mulai menunjukkan kinerja positif. Imbal hasil semua instrumen, baik itu saham, pendapatan tetap, maupun campuran mampu memberikan imbal hasil positif secara year-to-date (ytd).

Berdasarkan data Infovesta, unitlink saham menjadi unggulan dengan imbal hasil yang tertinggi. Secara ytd, imbal hasil untilink di instrumen ini sebesar 2,34% sementara jika dilihat month-on-month (mom), imbal hasilnya mencapai 3,66%.

Selanjutnya, ada unitlink campuran yang memberikan imbal hasil 1,42% ytd dan 2,02% mom. Terakhir, ada unitlink pendapatan tetap yang imbal hasilnya tercatat 1,13% ytd dan 0,41% mom.

Analis Senior dan Konsultan PT Infovesta Kapital Advisori Praska Putrantyo menyebut bahwa  meningkatnya indeks UL jenis saham dan campuran ditopang oleh kinerja indeks pasar saham (IHSG) yang di periode tersebut juga memiliki sentimen positif.

Baca Juga: Selain pariwisata, LPEI dorong devisa Bali lewat ekspor Garam Kusamba

“Positifnya kinerja pasar terangkat oleh sentimen arus dana investor asing di pasar saham yang cukup masif sebesar Rp 23,5 triliun. Sementara, di pasar SBN dimana kepemilikan investor asing masih menyusut senilai Rp 12,51 triliun akibat antisipasi jelang pengumuman kebijakan tapering oleh The Fed di awal November 2021,” ujar Praska.

Selain itu, Praska juga bilang bahwa ada juga sentimen positif untuk pasar saham yang berasal dari optimisme pemulihan ekonomi di kuartal terakhir ini lebih cepat setelah kasus harian Covid 19 semakin membaik dan pelonggaran kebijakan PPKM serta berlanjutnya insentif KPR dan KKB. “Musim publikasi laporan keuangan emiten saham dan momentum dividen interim juga menjadi katalis penopang,” imbuhnya.

Ke depan, Praska optimis kinerja indeks unitlink jenis saham dan campuran diperkirakan masih memberikan kinerja lebih baik karena sentimen optimisme recovery ekonomi dan jelang efek window dressing di akhir tahun.

Namun, untuk  kinerja indeks unitlink jenis pendapatan tetap diprediksi masih berpotensi terhambat mengingat ada kenaikan yield obligasi akibat kebijakan tapering oleh The Fed.

Hal yang sama juga dialami oleh BNI Life yang mencatat imbal hasil tertinggi terletak pada unitlink saham, mengingat bulan Oktober, IHSG juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan karena dipengaruhi oleh perkembangan kasus covid yang semakin menurun dan pelonggaran PPKM.

Baca Juga: Pendapatan bank dari bisnis bancassurance makin mengembang

Jika melihat catatan Infovesta, produk unitlink saham BNI Life, B-Life Link Dana Aktif memberikan imbal hasil 7,18% mom. Lebih tinggi dari rata-rata imbal hasil produk unitlink saham yang hanya sebesar 3,49% mom.

“Namun semua unitlink kami sangat kompetitif apabila dibandingkan dengan peers maupun benchmark. Nasabah dapat memilih sesuai risk appetite masing-masing,” ungkap Direktur Keuangan BNI Life, Eben Eser Nainggolan.

Hanya saja, sampai dengan Oktober 2021 lalu, pendapatan premi unitlink di BNI Life mengalami penurunan 16% jika dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi senilai Rp 1,3 miliar.

Sementara itu, jumlah pemegang polis aktifnya pun juga mengalami penurunan sekitar 5% menjadi lebih dari 113 ribu pemegang polis yang dinilai disebabkan berbagai faktor tidak hanya surrender.

“Ada beberapa alasan seperti, kebutuhan dana untuk konsumsi atau usaha serta adanya informasi yang kurang bagus perihal unitlink di market,” imbuh Eben.

Berbeda nasib, BRI Life justru mencatat pertumbuhan premi per Oktober sekitar 30% you menjadi Rp 1,8 triliun. Tak hanya itu, jumlah pemegang polis aktif per akhir Oktober 2021 mencapai lebih dari 660,000 pemegang polis, tumbuh lebih dari 30% dibandingkan posisi Desember 2020.

Direktur Utama BRI Life Iwan Pasila pun bilang selama ini pihaknya terus mendorong pemegang polis untuk memilih jenis dana yang sesuai dengan preferensi risiko calon pemegang polis. Mereka pun telah melakukan beberapa perubahan dalam ilustrasi, di antaranya dengan menyesuaikan proyeksi imbal hasil.

“Sampai Oktober 2021, proyeksi imbal hasil jenis dana saham yang kami gunakan dalam ilustrasi lebih rendah dari proyeksi imbal hasil jenis dana obligasi sesuai data pengalaman perusahaan,” ujar Iwan.

 

Selanjutnya: Lautan Luas (LTLS) kucurkan pinjaman modal kerja US$ 2 juta ke anak usaha

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru