kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

OJK sebut ada sejumlah PR terkait risiko siber pada IKD, apa saja?


Kamis, 19 November 2020 / 10:00 WIB

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

Ia menambahkan, penting bagi seluruh pihak melakukan edukasi dan mendisiplinkan para pelaku. Wimboh menyebut otoritas siap sedia dan telah untuk melakukan secara hukum.

Direktur Eksekutif Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono menambahkan hal ini tidak terlepas dari tingkat inklusi dan literasi keuangan di Indonesia. Berdasarkan survei OJK di 2019, tingkat inklusi keuangan di Indonesia masih 76,19%.

Baca Juga: Neobank, ancaman baru bagi bank konvensional di era digital

Masih pada survei yang sama, tingkat literasi keuangan baru 38,03%. Artinya, sebanyak 38% masyarakat belum memahami produk dan jasa keuangan yang Ia gunakan. Oleh sebab itu, regulator meminta seluruh IKD maupun fintech menerapkan prinsip perlindungan konsumen.

Hal ini seiring dengan semakin banyaknya jumlah fintech dan IKD. OJK telah mengklasifikasikan IKD yang sudah ada menjadi 15 kluster yakni aggregator, blockchain based, claim service handling, credit dan scoring. Juga adanya e-KYC, financial planner, financing agent, funding agent, insurance broker marketplace, dan insurtech.

Selain itu, kluster online distress solution, project financing, property investment management, RegTech - PEP, tax and accounting serta verification technology

Selanjutnya: OJK bakal manfaatkan teknologi untuk percepat proses pengaduan konsumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×