Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Situasi politik di Venezuela masih memanas menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran atas keberlanjutan pengiriman mobil dari Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi sorotan bagi industri otomotif nasional, mengingat negara Amerika Latin itu selama ini berperan sebagai salah satu tujuan ekspor kendaraan buatan dalam negeri, khususnya bagi Toyota.
Menanggapi perkembangan tersebut, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya masih memonitor dinamika yang berkembang di negara tujuan ekspor tersebut.
“Sampai saat ini belum dapat informasi ekspor ke Venezuela,” ujar Bob kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).
Ekspor Mobil Indonesia Terus Tancap Gas
Selama beberapa tahun belakangan, Venezuela dikenal sebagai salah satu pasar ekspor yang cukup berarti bagi industri otomotif nasional, terutama Toyota.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari–November 2025 Toyota mencatatkan pengiriman hampir 6.000 unit kendaraan dalam kondisi utuh atau completely built-up (CBU) dari Indonesia ke Venezuela.
Baca Juga: Mobil Listrik BYD Baru & Seken Laris Manis, Cek Perbedaan Harganya
Kontribusi terbesar datang dari Toyota Wigo, yang di pasar domestik dikenal sebagai Toyota Agya.
Model ini dikapalkan sebanyak 4.869 unit.
Varian Wigo 1.200 AT G 4x2 menjadi penyumbang utama dengan volume 3.767 unit, dengan distribusi yang relatif stabil sejak awal tahun.
Selain varian otomatis, Toyota juga mengirimkan Wigo 1.200 MT G 4x2 khusus pasar Venezuela sebanyak 1.102 unit.
Selain itu, Toyota Yaris Cross 1.500 AT G 4x2 turut diekspor meski jumlahnya lebih terbatas.
Total pengiriman model tersebut mencapai 1.008 unit sepanjang periode yang sama.
Kinerja ekspor kendaraan ke Venezuela juga tecermin dalam data perdagangan nasional.
Baca Juga: Harga Mobil Listrik Berpotensi Naik 2026, Ini Daftar Terbaru per Januari
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai pengiriman Indonesia ke Venezuela sepanjang 2025 mencapai 66,66 juta dollar AS atau setara Rp 1,1 triliun, meningkat 40,59 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dari total tersebut, komoditas otomotif dengan kode HS 87 menjadi penyumbang terbesar, dengan nilai 46,38 juta dollar AS atau setara Rp 777,3 miliar.
Nilai itu melonjak 177,26 persen secara tahunan.
Meski kinerja ekspor masih terjaga, peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai potensi pelemahan permintaan tetap perlu diantisipasi seiring ketidakpastian politik yang berkembang di Venezuela.
“Biasanya kalau kondisi sosial-politik bergejolak, permintaan akan melemah. Tapi saya melihat gejolaknya tidak akan terlalu lama, sehingga ekspor Indonesia kemungkinan masih berjalan,” ujar Tauhid kepada Kompas.com.
Ia menambahkan, aspek yang patut dicermati adalah tekanan inflasi di Venezuela pascakejadian tersebut.
Jika inflasi meningkat tajam, daya beli serta kemampuan impor negara itu dapat terdampak, termasuk untuk kendaraan bermotor.
Tonton: Momen Langka, Presiden Korsel Selfie Bareng Xi Jinping Pakai HP Xiaomi
Dengan situasi tersebut, industri otomotif Indonesia kini menghadapi dua sisi yang beriringan.
Di satu sisi, pasar Venezuela masih mampu menyerap ribuan unit mobil produksi dalam negeri.
Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi dan politik berpotensi menguji ketahanan ekspor kendaraan nasional dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Gejolak politik di Venezuela akibat penangkapan Presiden Nicolas Maduro menempatkan ekspor mobil Indonesia dalam posisi rawan, meski secara data kinerja pengiriman kendaraan—terutama Toyota—masih solid dan bahkan tumbuh signifikan sepanjang 2025. Ketergantungan pada pasar yang secara politik dan ekonomi tidak stabil membuat keberlanjutan ekspor berisiko tertekan jika gejolak berlarut dan memicu lonjakan inflasi, melemahkan daya beli serta kemampuan impor Venezuela. Dengan demikian, industri otomotif nasional menghadapi paradoks: peluang ekspor masih terbuka, tetapi ketahanan jangka pendek hingga menengah akan sangat ditentukan oleh cepat atau lambatnya normalisasi situasi politik dan ekonomi di negara tujuan.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Ekspor Mobil Indonesia ke Venezuela Terancam Situasi Politik"
Selanjutnya: Lonjakan Harga Komoditas Mendongkrak Saham Emiten Nikel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













