Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai pengiriman Indonesia ke Venezuela sepanjang 2025 mencapai 66,66 juta dollar AS atau setara Rp 1,1 triliun, meningkat 40,59 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dari total tersebut, komoditas otomotif dengan kode HS 87 menjadi penyumbang terbesar, dengan nilai 46,38 juta dollar AS atau setara Rp 777,3 miliar.
Nilai itu melonjak 177,26 persen secara tahunan.
Meski kinerja ekspor masih terjaga, peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai potensi pelemahan permintaan tetap perlu diantisipasi seiring ketidakpastian politik yang berkembang di Venezuela.
“Biasanya kalau kondisi sosial-politik bergejolak, permintaan akan melemah. Tapi saya melihat gejolaknya tidak akan terlalu lama, sehingga ekspor Indonesia kemungkinan masih berjalan,” ujar Tauhid kepada Kompas.com.
Ia menambahkan, aspek yang patut dicermati adalah tekanan inflasi di Venezuela pascakejadian tersebut.
Jika inflasi meningkat tajam, daya beli serta kemampuan impor negara itu dapat terdampak, termasuk untuk kendaraan bermotor.
Tonton: Momen Langka, Presiden Korsel Selfie Bareng Xi Jinping Pakai HP Xiaomi
Dengan situasi tersebut, industri otomotif Indonesia kini menghadapi dua sisi yang beriringan.
Di satu sisi, pasar Venezuela masih mampu menyerap ribuan unit mobil produksi dalam negeri.
Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi dan politik berpotensi menguji ketahanan ekspor kendaraan nasional dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Gejolak politik di Venezuela akibat penangkapan Presiden Nicolas Maduro menempatkan ekspor mobil Indonesia dalam posisi rawan, meski secara data kinerja pengiriman kendaraan—terutama Toyota—masih solid dan bahkan tumbuh signifikan sepanjang 2025. Ketergantungan pada pasar yang secara politik dan ekonomi tidak stabil membuat keberlanjutan ekspor berisiko tertekan jika gejolak berlarut dan memicu lonjakan inflasi, melemahkan daya beli serta kemampuan impor Venezuela. Dengan demikian, industri otomotif nasional menghadapi paradoks: peluang ekspor masih terbuka, tetapi ketahanan jangka pendek hingga menengah akan sangat ditentukan oleh cepat atau lambatnya normalisasi situasi politik dan ekonomi di negara tujuan.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Ekspor Mobil Indonesia ke Venezuela Terancam Situasi Politik"
Selanjutnya: Lonjakan Harga Komoditas Mendongkrak Saham Emiten Nikel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













