kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Mencermati efek pelonggaran PPKM pada pertumbuhan ekonomi Indonesia


Selasa, 02 November 2021 / 06:00 WIB

Reporter: Achmad Jatnika | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dinilai akan memberikan efek yang berbeda untuk sektor ekonomi tumpuan, karena pola pemulihannya juga yang relatif berbeda.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy memberikan contoh mengenai hal tersebut, misalnya sektor perdagangan yang tumbuh seiring dengan dilonggarkannya kegiatan masyarakat di kuartal II/2021 dan adanya insentif PPnBM. 

Sedangkan di kuartal I/2021, adanya pelonggaran yang tidak dibarengi dengan insentif, membuat sektor perdagangan masih berada di zona pertumbuhan yang negatif. 

“Untuk sektor perdagangan, pelonggaran PPKM tidaklah cukup karena tetap harus didorong oleh insentif dan kebijakan tambahan dari pemerintah,” jelas Yusuf kepada Kontan, Senin (1/11).

Baca Juga: PPKM darurat bikin kinerja reksadana kurang optimal sepanjang tahun ini

Sementara di kuartal III/2021, ia menilai, seiring dengan adanya pembatasan yang kembali dijalankan oleh pemerintah, sektor perdagangan berpeluang kembali tertahan pertumbuhannya. 

Untuk sektor tumpuan lain, seperti sektor industri pengolahan, Yusuf menuturkan, meskipun secara umum pertumbuhannya sudah membaik, tetapi beberapa sub-sektor di kuartal II/2021 masih berada di zona pertumbuhan negatif. 

Akan tetapi, di beberapa sub-sektor industri pengolahan seperti makanan dan minuman yang masih diperbolehkan beroperasi, dalam penilaiannya pemberlakuan PPKM seharusnya tidak begitu memukul sub-sektor ini.

“Hanya, sekali tertekannya daya beli pada kuartal III/2021 berpotensi menekan permintaan barang dari beberapa pos dari industri pengolahan,” jelas Yusuf. 

Baca Juga: Pengusaha industri pengolahan optimistis kinerja manufaktur terus membaik



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS [Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI

×