Masih terdampak pandemi, IMF ramal defisit APBN 2021 bakal mencapai 6,2% dari PDB

Jumat, 30 Juli 2021 | 05:15 WIB   Reporter: Yusuf Imam Santoso
Masih terdampak pandemi, IMF ramal defisit APBN 2021 bakal mencapai 6,2% dari PDB


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APNB) 2021 mencapai 6,2% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dari target pemerintah yang sebesar 5,7% dari PDB.

IMF dalam laporannya yang bertajuk World Economic Outlook Update edisi Juli 2021 menyampaikan besaran defisit tersebut lantaran dampak pandemi virus corona yang masih jadi momok bagi perekonomian Indonesia.

Sejalan dengan penyebaran kasus Covid-19 yang masih tinggi, pemerintah menjalankan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada awal bulan ini. Kemudian, dilanjutkan dengan PPKM level 4 sampai dengan awal Agustus 2021.

Baca Juga: Akselerasi penyaluran BLT Desa masih mini, ini yang dilakukan Kemenkeu

Setali tiga uang, roda perekonomian bakal melambat karena penurunan aktivitas masyarakat. Dampaknya, penerimaan pajak diprediksi tak cukup diandalkan untuk membiayai kebutuhan penanganan pandemi. Alhasil utang akan meningkat.

Sebab, IMF menekankan pemerintah masih membutuhkan lebih banyak anggaran belanja untuk penanganan kesehatan dan perlindungan sosial guna menanggulangi pemburukan karena pandemi.

Di sisi lain, persentase defisit itu juga dikarenakan ekonomi yang melemah. IMF meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya mencapai 3,9% year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya di 4,3% yoy. Angka tersebut pun lebih rendah dari prediksi pemerintah yang berada di rentang 4,5%-5,3% yoy.

Lebih lanjut, IMF menilai tren defisit yang melebar dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah bakal akan berlangsung pada negara-negara berkembang.

“Negara-negara yang tertinggal dalam vaksinasi, seperti India dan Indonesia akan paling menderita di antara ekonomi G20. Sehingga terjadi perlambatan aktivitas masyarakat yang berlarut-larut, akhirnya berdampak pada ekonomi,” tulis IMF dalam laporannya tersebut.

Baca Juga: Aturan terbaru jam kerja ASN selama PPKM, seperti apa?

Di lain kesempatan, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi Indonesia masih akan terakselerasi di periode semester II-2021. Meski, ia tidak memungkiri penanganan kesehatan menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi fiskal, Menkeu mengatakan pemerintah akan menggunakan mekanisme realokasi/refocusing anggaran belanja untuk memenuhi peningkatan kebutuhan penanganan covid-19. Selain itu menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) 2021 yang hingga masih ada di kantong negara sebesar Rp 186,67 triliun.

Dus, Sri Mulyani menekankan justru pemerintah bisa menekan pembiayaan utang di tahun ini. Alhasil defisit secara nominal diyakini sebesar Rp 939,6 triliun di akhir tahun 2021, atau lebih rendah Rp 66,8 triliun dari target yang telah ditetapkan APBN 2021.

“Ini hal yang akan kita coba pelihara sehingga konsolidasi fiskal tetap bisa berjalan namun bukan berarti kita tidak bisa membantu ekonomi masayarakat dan penanganan pandemi yang efektif. Namun defisit masih 5,7% ini tergantung dari gross domestic product (GDP) dan dari nominalnya,” Kata Menkeu beberapa waktu lalu.

Selanjutnya: Pemerintah tengah mengevaluasi aturan moratorium perkebunan kelapa sawit

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi

Terbaru