Reporter: Leni Wandira | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Nilai transaksi divestasi disepakati sebesar Rp 1,5 triliun di luar pajak. Sementara itu, hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik Suwendho Rinaldy dan Rekan menunjukkan nilai pasar bisnis teh tersebut sebesar Rp 1,49 triliun.
Padwestiana menambahkan bahwa nilai transaksi setara dengan sekitar 45% dari total ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025.
Dari sisi kontribusi, total aset bisnis teh SariWangi tercatat mencapai 2,5% dari total aset perseroan. Kontribusi laba bersih bisnis tersebut setara dengan 3,1% dari laba bersih perseroan, sementara kontribusi pendapatan usaha mencapai 2,7%.
“Dengan demikian, transaksi ini merupakan Transaksi Material yang tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 17/POJK.04/2020,” lanjut Padwestiana.
Perseroan menegaskan bahwa divestasi ini tidak akan menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha Unilever Indonesia.
Ke depan, hasil penjualan bisnis teh ini diharapkan dapat membantu perseroan merealisasikan nilai investasi dan mengembalikannya kepada pemegang saham dalam jangka pendek, sekaligus memperkuat fokus pada bisnis inti guna meningkatkan nilai jangka panjang.
Tonton: Kementerian ESDM Catat Lifting Minyak Capai 605.300 Barel per Hari Sepanjang 2025
Kesimpulan
Divestasi bisnis teh SariWangi menjadi langkah strategis Unilever Indonesia untuk merampingkan portofolio dan memfokuskan sumber daya pada kategori inti dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi. Meski nilai transaksi mencapai Rp 1,5 triliun dan tergolong transaksi material, kontribusi bisnis teh terhadap kinerja perseroan relatif kecil sehingga aksi ini tidak diperkirakan berdampak signifikan pada operasional maupun kelangsungan usaha. Dengan penyelesaian transaksi yang ditargetkan pada semester I-2026, Unilever Indonesia berharap dapat mengoptimalkan nilai investasi bagi pemegang saham sekaligus membuka ruang bagi SariWangi untuk berkembang lebih agresif di bawah kepemilikan baru.
Selanjutnya: Industri Mobil Listrik Bingung Arah, Insentif 2026 Tak Kunjung Jelas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













