kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kenapa Harga Garam Melonjak Gila-gilaan? Pemicu Utamanya Bukan Impor


Rabu, 14 Januari 2026 / 04:12 WIB
Diperbarui Kamis, 15 Januari 2026 / 05:26 WIB
Kenapa Harga Garam Melonjak Gila-gilaan? Pemicu Utamanya Bukan Impor
ILUSTRASI. Harga garam kasar naik 100% akibat produksi anjlok 80% karena 'kemarau basah' ekstrem 2025. Kalkulasi terbaru menunjukkan risiko pasokan industri tahu tempe. (Dok./Shutterstock)

Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga garam kasar atau garam krosok yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri tahu dan tempe mengalami lonjakan signifikan sejak paruh kedua 2025. Kenaikan harga ini disebut hampir mencapai 100% dibandingkan posisi harga pada tahun sebelumnya.

Ketua Umum Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin, mengungkapkan bahwa harga garam kasar mulai menyentuh Rp 2.500 per kilogram (kg) pada November 2025. Padahal, pada Agustus 2025 harga masih berada di kisaran Rp 1.700 per kg.

“Harga naik hampir 100% dibandingkan dengan harga garam tahun 2024,” ujar Jakfar kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).

Menurut Jakfar, lonjakan harga tersebut terjadi secara merata di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini dipicu oleh terganggunya produksi garam di sejumlah sentra utama, seperti Madura serta pesisir utara Jawa meliputi Rembang, Pati, Cirebon, dan Indramayu, yang kerap diguyur hujan sejak tahun lalu.

Akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung, produksi garam rakyat mengalami penurunan drastis. “Produksi turun jauh, sampai hanya sekitar 20% dibandingkan produksi tahun 2024,” imbuh Jakfar.

Baca Juga: Susu Nestlé RI Tak Terdampak Recall 50 Negara, Ini Alasannya

Kondisi serupa juga disoroti oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Cucu Sutara. Ia menilai kemarau basah ekstrem sepanjang 2025 menyebabkan hampir nihilnya produksi garam di dalam negeri.

“Hal ini mengakibatkan supply dan demand menjadi tidak seimbang,” terang Cucu.

Meski berdampak positif bagi petani yang masih memiliki stok produksi karena bisa menjual dengan harga lebih tinggi, Cucu menilai kenaikan harga belum dibarengi peningkatan kualitas. Hingga kini, garam lokal dinilai belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi industri dengan standar tinggi.

Akibatnya, pemanfaatan garam rakyat masih terbatas pada industri aneka pangan seperti pengolahan ikan, kulit, dan pengalengan. “Untuk sektor industri tertentu, kebutuhan tersebut belum bisa dipenuhi oleh garam lokal,” imbuh Cucu.

Selain faktor cuaca, Jakfar menambahkan bahwa pergerakan harga garam juga dipengaruhi masuknya garam impor yang dinilai tidak selaras dengan kebutuhan riil dan kondisi produksi domestik.

Baca Juga: Jangan Sampai Kehabisan: Diskon Harga Mobil Baru Suzuki Hingga Rp 100 Juta Awal 2026

“Yang berpengaruh terhadap harga garam adalah impor yang tidak terkendali atau volumenya terlalu tinggi dibandingkan kebutuhan,” jelasnya.

Dari sisi distribusi, Jakfar menilai kondisi penyaluran garam relatif aman. Stok yang terlihat melimpah di pasar pada periode tertentu, menurutnya, bukan semata berasal dari produksi baru, melainkan juga dari masuknya garam impor.

“Produksi bisa rendah, tetapi impor yang masuk banyak sehingga terjadi kelebihan pasokan di pasar,” katanya.

Meski demikian, pasokan garam rakyat untuk kebutuhan domestik saat ini masih dinilai mencukupi, karena ditopang oleh stok di tingkat petambak, pedagang, dan pengepul yang berasal dari produksi tahun 2023 dan 2024.

Tonton: Antam (ANTM) Luncurkan Emas Batangan Imlek 2026 Bertema Kuda Api

Ke depan, APGRI mendorong pemerintah menetapkan harga pembelian terendah (floor price) bagi petambak garam agar produksi lebih berkelanjutan. Selain itu, Jakfar juga mengusulkan pembentukan badan penyangga garam nasional seperti Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

×