kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45931,36   3,72   0.40%
  • EMAS1.320.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Insentif PPN bagi properti diharapkan bisa mendongkrak bisnis KPR pada tahun 2021


Selasa, 02 Maret 2021 / 09:25 WIB
Insentif PPN bagi properti diharapkan bisa mendongkrak bisnis KPR pada tahun 2021

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Guna memacu perekonomian nasional, pemerintah telah memberikan berbagai macam stimulus bagi sektor properti. Ada potongan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga 100% untuk rumah dengan harga maksimal Rp 2 miliar dan diskon 50% PPN untuk harga jual rumah Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar. 

Selain itu, Bank Indonesia juga telah memberikan relaksasi relaksasi loan to value (LTV) hingga 100% bagi kredit kepemilikan rumah (KPR) perbankan. Artinya, bank bisa saja menerapkan uang muka alias down payment (DP) hingga 0%. 

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menilai berbagai stimulus tersebut bisa menggairahkan sektor properti. EVP Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Josephus Koernianto Triprakoso bilang hal itu juga bisa menjadi pendorong pertumbuhan KPR. 

Baca Juga: Kondisi ekonomi debitur membaik, tren restrukturisasi kredit kian melandai

Ia menyatakan Bank Mandiri tentu mengapresiasi program DP 0% yang diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk mengajukan KPR. Namun Ia mengingatkan limit KPR yang lebih besar ini tentu memiliki konsekuensi pembayaran angsuran yang lebih besar pula. 

“Sehingga ke depannya kami akan tetap selektif dan tetap melihat kemampuan keuangan nasabah, terutama pada kondisi ekonomi yang masih dalam tahap awal recovery ini,” ujar Josephus kepada Kontan.co.id pada Senin (1/3).

Ia melihat selama berlangsungnya pandemi Covid-19 setahun ini, masih ada pangsa pasar KPR yang tumbuh. Yakni, kalangan first home buyer yang berusia 20 tahun hingga 30 tahun.

“Mereka memang mencari rumah untuk kemudian ditinggali bersama keluarga dengan kisaran harga Rp 250 juta hingga Rp 1 miliar. Melihat perkembangan ini, setahun terakhir juga kita lihat trend property developer yang fokus untuk membangun rumah-rumah yang sesuai dengan market tersebut.Tren positif ini kami lihat akan berlanjut di tahun 2021 ini” paparnya. 

Baca Juga: Alasan mengapa harus mengganti kartu ATM magnetic stipe ke kartu chip

Oleh sebab itu, Bank Mandiri memproyeksikan bisnis KPR Mandiri bisa tumbuh di kisaran 20% hingga 30% sepanjang 2021. Bank berlogo pita emas ini akan fokus kepada segmen first home buyer tersebut.

Begitupun dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mengakui serangkaian stimulus dari pemerintah akan membantu industri properti dan perbankan. Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang dalam pelaksanaan relaksasi LTV, CIMB Niaga tidak akan memukul rata kebijakan bagi setiap nasabah. 

“Akan tergantung dari hasil assessment kredit setiap nasabah. Saat ini kami belum terapkan DP 0% untuk mitigasi risiko di kemudian hari,” papar Lani kepada Kontan.co.id pada Senin (1/3).

Ia berharap bisnis KPR akan tetap menjadi penopang dari kredit konsumer. Seiring dengan itu, bank bersama anak perusahaan CIMB Niaga Auto Finance juga akan terus menggenjot kredit kendaraan bermotor. 

Adapun pertumbuhan KPR CIMB Niaga yang berhasil tumbuh di kisaran 6% walau terpapar pandemi. Sedangkan KKB melalui anak perusahaan CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) tahun lalu masih bisa tumbuh 12%.

Lani menyebut target kredit konsumer jauh lebih positif. KPR antara lain diprediksi bisa tumbuh pada kisaran 6%-8%. Sementara untuk KKB diproyeksi bisa tumbuh di atas 10%.

Baca Juga: Pegadaian ramal bisnis gadai emas akan tetap tumbuh subur pada tahun ini

Guna memacu bisnis, CIMB Niaga telah menyesuaikan suku bunga kredit konsumer. Lani bilang dalam dua tahun terakhir telah terjadi penurunan di atas 250 basis poin (bps) untuk suku bunga kredit konsumer. 

Tak mau kalah, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengapresiasi langkah BI  melonggarkan aturan rasio LTV untuk kredit dan pembiayaan properti. Direktur BCA Santoso menyatakan hingga saat ini, BCA berkoordinasi secara internal dan akan terus berkomunikasi dengan regulator dan otoritas terkait kebijakan tersebut. 

“Sepanjang tahun 2020, pada portofolio kredit konsumer, perseroan mencatatkan KPR turun 3,7% yoy menjadi Rp 90,2 triliun. Kami berharap bahwa geliat bisnis konsumer akan segera pulih sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan,” papar Santoso kepada Kontan.co.id pada Selasa (1/3). 

Ia melanjutkan, dalam rangka HUT ke-64 BCA yang jatuh pada 21 Februari mendatang, BCA juga akan menggelar BCA Expoversary secara virtual yang akan menghadirkan penawaran dan promo menarik KPR dan KKB BCA. Hal ini diharapkan bisa mendongkrak kredit konsumer perusahaan di tengah pandemi.

Selanjutnya: Kejar target pembiayaan, BCA Finance andalkan pendanaan joint financing dengan BCA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

×