Ini 5 Presiden dan Perdana Menteri yang meremehkan Covid-19

Kamis, 20 Mei 2021 | 13:11 WIB Sumber: Yahoo Finance
Ini 5 Presiden dan Perdana Menteri yang meremehkan Covid-19


KONTAN.CO.ID - Covid-19 terkenal sulit dikendalikan. Para pemimpin politik merupakan bagian dalam hal manajemen atau penanganan pandemi. 

Akan tetapi, beberapa pemimpin dunia saat ini dan sebelumnya, telah melakukan sedikit upaya untuk memerangi wabah di negara mereka. Beberapa dari mereka bahkan sempat meremehkan keparahan pandemi, mengabaikan sains, atau mengabaikan intervensi kesehatan kritis seperti jarak sosial dan masker. 

Melansir Yahoo News yang mengutip The Conversation, semua pemimpin dalam daftar ini melakukan setidaknya satu dari kesalahan itu, dan sebagian lain melakukan semua kesalahan dengan konsekuensi yang mematikan.

1. Narendra Modi dari India

(Analis: Sumit Ganguly, Universitas Indiana)

India adalah pusat baru pandemi global, dengan mencatat sekitar 400.000 kasus baru per hari hingga Mei 2021. Data statistik ini juga menggambarkan kengerian yang terjadi di sana. Pasien Covid-19 sekarat di rumah sakit karena dokter tidak memiliki oksigen untuk diberikan dan tidak ada obat penyelamat seperti remdesivir. 

Banyak warga yang sakit ditolak dari klinik karena tidak ada lagi tempat tidur yang tersedia.

Baca Juga: Ada 27 kasus positif Covid-19 varian baru, berikut rinciannya

Banyak warga India menyalahkan satu orang atas tragedi negara: Perdana Menteri Narendra Modi.

Pada Januari 2021, Modi menyatakan di forum global bahwa India telah menyelamatkan umat manusia dengan mengatasi corona secara efektif. 

Pada bulan Maret 2021, Menteri Kesehatan India mengumumkan bahwa pandemi telah mencapai akhir permainan. Namun, Covid-19 mengamuk dan pemerintah India tidak membuat persiapan terkait hal tersebut, seperti munculnya varian Covid-19 yang lebih mematikan dan lebih menular.

Baca Juga: Varian B.1.1.7, B.1.617 dan B.1.351 sudah menyebar di Indonesia, kenali gejalanya

Bahkan saat sejumlah negara bagian belum sepenuhnya menekan penyebaran virus, Modi dan anggota partainya lainnya mengadakan kampanye luar ruangan sebelum pemilihan bulan April. 

Modi juga mengizinkan festival keagamaan yang menarik jutaan orang berlangsung dari Januari hingga Maret. Pejabat kesehatan masyarakat sekarang meyakini bahwa festival tersebut mungkin merupakan kesalahan besar yang dilakukan pemerintah India.

Saat Modi memuji kesuksesannya tahun lalu, India merupakan produsen vaksin terbesar di dunia. Negara ini mengirimkan lebih dari 10 juta dosis vaksin ke negara tetangga. Namun hanya 1,9% dari 1,3 miliar orang India yang telah sepenuhnya diinokulasi terhadap Covid-19 pada awal Mei.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru