Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (11/3/2026), meskipun pelaku pasar masih meragukan efektivitas rencana pelepasan cadangan minyak secara besar-besaran oleh International Energy Agency (IEA) untuk meredam potensi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 59 sen atau 0,7% menjadi US$ 88,39 per barel pada pukul 07.27 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 98 sen atau 1,2% ke level US$ 84,43 per barel.
Meski demikian, kedua kontrak minyak tersebut sempat melanjutkan pelemahan pada awal perdagangan di Asia setelah sebelumnya anjlok lebih dari 11% pada Selasa (10/3).
Harga Minyak Sangat Dipengaruhi Konflik Geopolitik
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan harga minyak ke depan masih akan sangat fluktuatif mengikuti perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, pernyataan mengenai potensi meredanya konflik belum cukup kuat untuk menjamin stabilitas pasar energi global.
“Jika situasi kembali stabil, harga minyak berpotensi bergerak di kisaran US$ 80–90 per barel. Namun apabila tensi memanas, harga bisa kembali menembus US$ 100 bahkan berpotensi mencapai US$ 150 per barel,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: Diskon Tol 30% Lebaran dari Jasa Marga: Ini Ruas, Tanggal & Syaratnya
Potensi Lonjakan Harga Hingga US$ 130 per Barel
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga memperkirakan harga minyak mentah berpeluang kembali naik hingga menyentuh level US$ 130 per barel.
Menurutnya, pasar minyak global sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik, terutama jika konflik memicu gangguan pada jalur distribusi energi dunia.
Ia menyoroti potensi gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global.
“Jika jalur distribusi energi terganggu akibat konflik besar, harga minyak bisa melonjak signifikan. Analisis saya level tertinggi masih di kisaran US$ 130 per barel,” jelas Ibrahim.
Ia menambahkan, sebagian pihak di Iran bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus US$ 200 per barel dalam skenario ekstrem jika konflik meluas, meskipun proyeksi tersebut masih bersifat spekulatif.
Baca Juga: Jumlah BHR Maxim Misterius, 51.000 Mitra Pengemudi Terima Bonus
Harga Minyak Indonesia Ikut Naik
Di dalam negeri, pemerintah sebelumnya menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) Februari 2026 sebesar US$ 68,79 per barel.
Angka ini naik US$ 4,38 dibandingkan Januari 2026 yang berada di level US$ 64,41 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaiman menjelaskan bahwa kenaikan ICP dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
Selain itu, kekhawatiran pasar juga dipicu oleh serangan terhadap fasilitas energi di Rusia serta kondisi pasokan global yang semakin ketat.
Laporan IEA juga menunjukkan produksi minyak dunia menurun pada awal 2026, termasuk dari negara-negara anggota OPEC+.
Permintaan Energi Global Turut Menopang Harga
Di sisi lain, penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat mencerminkan meningkatnya konsumsi energi dan aktivitas ekonomi yang turut menopang harga minyak.
Dari kawasan Asia Pasifik, aktivitas pengolahan minyak di Singapura meningkat dengan crude throughput mencapai 89% dari kapasitas 1,12 juta barel per hari pada akhir Februari 2026.
China juga dilaporkan menambah cadangan minyak strategis hingga sekitar 1 juta barel, yang turut memperketat keseimbangan pasar antara pasokan dan permintaan global.
Tonton: Asia Tenggara Terancam Gelombang Panas Ekstrem! Indonesia Bisa Kena Dampak Besar
Sejalan dengan perkembangan tersebut, rata-rata harga minyak mentah utama dunia pada Februari 2026 juga mengalami kenaikan.
Harga Brent (ICE) naik US$ 4,64 menjadi US$ 69,37 per barel, WTI (Nymex) naik US$ 4,26 ke level US$ 64,52 per barel, Dated Brent meningkat US$ 4,35 menjadi US$ 71,15 per barel, serta Basket OPEC naik US$ 5,48 menjadi US$ 67,79 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













