kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.918   48,00   0,27%
  • IDX 5.665   -156,25   -2,68%
  • KOMPAS100 732   -20,31   -2,70%
  • LQ45 558   -14,54   -2,54%
  • ISSI 196   -4,85   -2,41%
  • IDX30 317   -7,87   -2,42%
  • IDXHIDIV20 392   -9,24   -2,30%
  • IDX80 83   -2,30   -2,69%
  • IDXV30 107   -1,90   -1,76%
  • IDXQ30 102   -2,43   -2,32%

Gojek-Tokopedia resmi merger menjadi GoTo, simak komentar 3 pengamat ini


Selasa, 18 Mei 2021 / 08:20 WIB

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto

Dampak dari merger ini, sambung Huda, adalah semakin mengerucutkan persaingan di industri ekonomi digital Indonesia menjadi tiga poros. Ketiganya adalah Group GoTo, SEA Group, dan Grab-Ovo-Emtek.

Penguasaan pasar akan menjadi isu utama, sehingga pemain selain ketiga grup itu akan semakin sulit untuk masuk dan menjadi pesaing utama.

Baca Juga: Tokopedia-Gojek merger, OVO masih berkomitmen jadi metode pembayaran di Tokopedia

Apalagi, GoTo memiliki prospek yang cerah untuk meraih pendanaan lewat  bursa saham dengan Initial Oublic Offering (IPO).

"Jika GoTo sudah IPO maka praktis GoTo, SEA Group, dan Grab sudah mendapatkan pendanaan dari pasar yang akan semakin sulit dikejar oleh pesaingnya dalam hal pendanaan," tutur Huda.

Mengenai IPO, Doni Ismanto mengingatkan bahwa pemilihan lokasi bursa mesti dipertimbangkan. Menurutnya, berdasarkan startup yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (IDX), investor masih perlu penyesuaian untuk menerima model bisnis e-commerce atau on demand seperti Gojek dan Tokopedia.

"Saya rasa keduanya kalau IPO memilih bursa yang bisa menerima model bisnis mereka seperti di AS. Kalau di sana sudah terbiasa dengan model valuasi yang mereka tawarkan," pungkas Doni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS Inventory Management: From Chaos to Control

×