Bisnis Communication Cable (CCSI) diklaim berhasil rebound di akhir tahun 2020

Senin, 08 Maret 2021 | 04:15 WIB   Reporter: Amalia Nur Fitri
Bisnis Communication Cable (CCSI) diklaim berhasil rebound di akhir tahun 2020

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT. Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) mengatakan pihaknya berhasil membalikkan kinerja perseroan pada kuartal IV 2020 lalu.

Investor Relations CCSI, Mario Palilingan mengatakan, kinerja Perseroan tidak kebal dari pandemi sepanjang kuartal I hingga III 2020. Namun demikian, CCSI belum berkenan membeberkan peningkatan yang dikantonginya pada kuartal IV 2020.

"Pada kuartal I hingga III 2020 CCSI terkena imbas pandemi Covid-19. Tapi pada kuartal IV 2020, kami sudah rebound dengan penjualan di atas kuartal IV 2019," jelasnya kepada Kontan, Minggu (7/3).

Baca Juga: Sarimelati (PZZA) optimistis tidak restrukturisasi utang meski terdampak pandemi

Pada kuartal III 2020, CCSI hanya membukukan pendapatan neto sebesar  Rp 172,83 miliar, turun 37,30% dibanding pendapatan neto periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 275,67 miliar.

Pendapatan yang turun tersebut dipicu oleh turunnya pendapatan dari lini produk utama perusahaan, yakni  kabel standar serta pendapatan dari lini jasa dan lainnya.

Lalu, pendapatan dari kabel standar turun 48,52% secara tahunan atau year-on-year (yoy)menjadi Rp 119,56 miliar di sepanjang Januari-September 2020, sedangkan pendapatan dari  jasa dan lainnya turun 52,73% yoy menjadi Rp 11,89 miliar pada periode yang sama.

Di sisi lain, ketiga lini pendapatan perusahaan lainnya masih mengalami kenaikan. Tercatat, pendapatan pipa naik 38,88% yoy menjadi Rp 9,37 miliar pada Januari-September 2020.

Baca Juga: Berencana buyback saham, Wahana Interfood (COCO) siapkan Rp 10,7 miliar

Berikutnya, pendapatan amoured cable juga melesat 268,67% yoy menjadi Rp 26,29 miliar, sementara pendapatan dari aksesoris naik 27,71%yoy menjadi Rp 5,70 miliar pada Januari-September 2020.

Adapun kontribusi pendapatan pipa, amoured cable, dan aksesoris porsinya tidak begitu besar. Bila akumulasi, persentase kontribusi ketiganya hanya mencapai  23,94% dari total pendapatan neto CCSI di sembilan bulan pertama.

Sebagian besar pendapatan CCSI di sepanjang Januari-September 2020 masih bersumber dari pendapatan kabel standar dengan porsi kontribusi 69,17%, sisanya dari lini jasa dan lainnya.

Senada, pengeluaran CCSI pada beberapa pos beban ikut turun. Beban pokok pendapatan misalnya, tercatat turun 31,74% yoy menjadi Rp 132,33 miliar di sembilan bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, beban pokok pendapatan CCSI mencapai Rp 193,87 miliar pada periode sama tahun lalu.

Penurunan pengeluaran juga dijumpai pada pos beban penjualan serta beban umum dan administrasi. Tercatat, beban penjualan CCSI turun 31,97%yoy dari Rp 4,38 miliar pada Januari-September 2019 menjadi Rp 2,98 miliar pada Januari-September 2020.

Sementara itu, beban umum dan administrasi perusahaan turun 8,56% yoy dari Rp 20,06 miliar pada Januari-September 2019 menjadi Rp 18,34 miliar di Januari-September 2020.

Baca Juga: Hanson Internasional (MYRX) resmi berdamai dengan kreditur

Dengan demikian, CCSI mengantongi laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 14,71 miliar atau turun 64,65% dibanding laba bersih tahun berjalan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 41,64 miliar.

Secara year to date periode kuartal III 2020, total aset CCSI tercatat sebesar Rp 452,26 miliar. Angka tersebut terdiri atas total ekuitas sebesar Rp 329,09 miliar dan total liabilitas sebesar Rp 123,17 miliar.

Sementara itu, kas dan setara kas pada akhir tahun perusahaan tercatat sebesar Rp 60,37 miliar per 30 September 2020. Angka ini turun 24,39% dibanding kas dan setara kas pada awal tahun perusahaan yang mencapai Rp 79,85 miliar.

Mario melanjutkan, tahun ini belum memiliki proyek spesifik yang menjadi andalan Perseroan. Adapun besaran capex yang akan digunakan juga masih dalam tahap penggodokan hingga saat ini.

Baca Juga: Punya liabilitas jangka pendek US$ 4,69 miliar, simak rencana Garuda Indonesia (GIAA)

Pihaknya menyampaikan kesiapan data akan dibuka saat paparan publik mendatang. "Namun demikian, kami cukup optimis bisnis 2021 akan pulih karena kebutuhan jaringan telekomunikasi masih terus berkembang sebagai implikasi dari kebutuhan bandwidth untuk mendukung kegiatan kerja di rumah (WFH) dan sekolah di rumah (SFH)," tutup Mario.

Selanjutnya: Pendapatan naik, kerugian Smartfren Telecom (FREN) susut

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru