The Fed pertahankan suku bunga acuan, harga emas naik

Sabtu, 31 Juli 2021 | 07:45 WIB   Reporter: Danielisa Putriadita
The Fed pertahankan suku bunga acuan, harga emas naik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas mulai bergerak naik setelah The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (29/7), mengumumkan menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate tetap di kisaran 0%-0,25%. Namun, analis mengatakan kenaikan harga emas saat ini berpotensi terkoreksi karena bayang kebijakan tapering off AS masih akan dilakukan. 

Berdasarkan Bloomberg, di hari yang sama setelah The Fed mengumumkan keputusan tersebut, harga emas kontrak Desember 2021 di Commodity Exchange naik 1,73% ke US$ 1.835 per ons troi. Sementara, Jumat (30/7), harga emas terkoreksi 0,20% ke US$ 1.831 per ons troi. 

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan harga emas menguat karena keputusan The Fed yang cenderung dovish membuat dollar AS melemah sehingga harga emas menguat. "The Fed bukan hanya mempertahankan suku bunga tetapi lembaga tersebut juga tidak memberikan timeline yang pasti dalam mengurangi pembelian obligasi dan dikatakan masih jauh bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga," kata Faisyal, Jumat (30/7). 

Baca Juga: Naik Rp 8.000, harga emas Antam hari ini ada di Rp 953.000 per gram pada Jumat (30/7)

Selain itu harga emas naik  didorong oleh permintaan yang juga naik sebagai aset safe haven. Maklum, di berbagai negara maju kini jumlah kasus  Covid-19 kembali naik. 

Faisyal menilai koreksi harga emas di akhir pekan ini terjadi hanya sementara. Hingga akhir tahun, Faisyal optimistis harga emas dalam tren naik. Sentimen positif yang menyelimuti emas juga datang dari data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal II-2021 yang tumbuh 6,5% tidak setinggi seperti proyeksi pelaku pasar di 8,5%.

Selain itu, data pengangguran meningkat di 400.000 lebih tinggi dari proyeksi di 382.000. "Data ekonomi AS yang tidak sesuai proyeksi menimbulkan keraguan pemulihan ekonomi AS, investor jadi kembali mencapai emas sebagai safe haven," kata Faisyal. 

Jika kondisi tersebut tidak berubah, Faisyal memproyeksikan harga emas berpotensi naik ke US$ 1.850, bahkan ke US$ 1.900 hingga US$ 2.000 di akhir tahun. 

Baca Juga: Harga timah di ICDX mencapai level tertinggi

Namun, harga emas tetap memiliki risiko terkoreksi jika AS kembali gencar mengeluarkan stimulus yang dampaknya membuat dollar AS dan bursa saham di AS menguat.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf juga mengatakan memang harga emas saat ini naik karena The Fed masih mempertahankan kebijakan akomodatif dalam waktu dekat ini.

Namun, melihat data inflasi AS belakangan yang sudah melebihi target inflasi di 2%, tidak menutup kemungkinan pelaku pasar akan berpikir bahwa pengetatan moneter dan tapering off akan menjadi bom waktu yang bisa mengoreksi harga emas kembali. 

"Jadi prospek terjadi tapering atau sinyal tapering yang kelak The Fed sampaikan mungkin saja di kuartal IV-2021 bisa saja kembali menahan kenaikan harga emas," kata Alwi. 

Alwi memproyeksikan hingga akhir tahun ini harga emas cenderung sideways. "Harga emas sentuh US$ 1.900 sudah cukup tinggi jika melemah bisa ke US$ 1.750," kata Alwi. 

Begitu pun prospek harga emas batangan Logam Mulia Antam juga berpotensi bergerak sideways di Rp 930.000 pada akhir tahun ini. 

Faisyal merekomendasikan buy on dips dan menyarankan investor tetap memperhatikan perkembangan politik dan ekonomi AS. 

Selanjutnya: BJTM dan ADHI masuk IDX BUMN20, begini rekomendasi sahamnya

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru