Strategi Kemenperin kembalikan kejayaan industri keramik Indonesia

Selasa, 26 Januari 2021 | 06:05 WIB   Reporter: Arfyana Citra Rahayu
Strategi Kemenperin kembalikan kejayaan industri keramik Indonesia


KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyusun strategi untuk membangkitkan kembali kejayaan industri keramik nasional seperti pada tahun 2014 sebagai produsen nomor empat di dunia. Target ini perlu ditopang dengan kebijakan strategis, di antaranya melalui program substitusi impor 35% pada tahun 2022 mendatang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan implementasi kebijakan strategis tersebut didukung dengan peraturan pengendalian tata niaga impor keramik dan pembatasan pelabuhan masuk (bongkar) di wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Selain itu, kebijakan minimum import price (MIP) untuk ubin keramik serta pemberlakuan SNI wajib yang diperketat.

Menperin menegaskan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) guna mencari solusi agar industri keramik nasional bisa lebih berdaya saing di kancah global.

“Mereka optimistis industri keramik bisa kembali jaya apabila mendapatkan dukungan dan atensi dari pemerintah. Asaki pun mendukung misi besar Kemenperin untuk substitusi impor,” jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (25/1).

Baca Juga: Asaki: Defisit perdagangan keramik pada tahun 2018-2020 mencapai US$ 655 juta

Menurut Agus, adanya penurunan harga gas tertentu bagi sektor manufaktur, dinilai membawa peluang untuk rebound di industri keramik selaku sektor yang menerima manfaat insentif tersebut. Adapun, utilisasi industri keramik pada tahun 2020 secara akumulatif mencapai 56%.

Asal tahu saja, di masa pandemi, utilisasi  industri keramik sempat menurun menjadi 30% pada kuartal II-2020, namun mulai beranjak naik hingga 60% di kuartal III. Kemudian, di kuartal IV 2020 utilisasi industri keramik kembali pada kondisi normal mencapai 70%. Agus mengatakan peningkatan ini tidak terlepas peran dari implementasi kebijakan harga gas industri sebesar US$ 6 per MMBTU. 

Selain meningkatkan utilisas pabrik,  dampak penurunan harga gas untuk industri keramik, berhasil membuat volume ekspor meningkat 29% di kuartal III-2020 dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019.

Menteri AGK menyatakan, pihaknya bertekad memacu produktivitas dan daya saing industri keramik di tanah air. Sebab, sektor ini mempunyai potensi dan peluang yang besar untuk dikembangkan di dalam negeri, seiring dengan ketersediaan sumber daya alam yang dijadikan bahan baku, tersebar di sejumlah daerah.

Baca Juga: Defisit impor keramik membesar, Asaki minta pemerintah ambil langkah konkret

“Secara kapasitas dan kemampuan, industri keramik kita telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, kami juga terus mendorong pemanfaatan teknologi modern guna menciptakan produk yang inovatif dan kompetitif,” imbuhnya.

Kemenperin mencatat, hingga saat ini kekuatan industri ubin keramik di Indonesia ditopang sebanyak 37 perusahaan yang tersebar di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatra Selatan.  Total kapasitas produksi terpasang sebesar 537 juta m2 (8,14 juta ton) per tahun yang menyerap tenaga kerja hingga 150 ribu orang.

Selanjutnya: Arwana Citramulia (ARNA) bidik pertumbuhan laba bersih 30% di tahun ini

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru