Sri Mulyani ramal ekonomi di kuartal I masih minus hingga 1%, ini alasannya

Selasa, 23 Maret 2021 | 17:25 WIB   Reporter: Yusuf Imam Santoso
Sri Mulyani ramal ekonomi di kuartal I masih minus hingga 1%, ini alasannya

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kuartal I-2021 berada di rentang minus 1% hingga minus 0,1% secara year on year (yoy). 

Meskipun kontraksi secara tahunan, proyeksi ekonomi tersebut mengindikasikan pemulihan dari periode kuartal IV-2020 yang minus 2,19% yoy. Lebih lanjut, Menkeu menyampaikan ada beberapa indikator ekonomi yang membuat ekonomi Januari-Maret 2021 mulai pulih.

Dari sisi konsumsi, tercermin dari peningkatan mobilitas masyarakat. Namun, Menkeu mengakui pembalikan ekonomi baru terjadi pada Maret lalu. Sebab, pada Januari-Februari pembatasan sosial makin diperketat, barulah pada Maret diperlonggar seiring dengan dinamika pengendalian pandemi virus corona.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia diperkirakan masih terkontraksi hingga minus 2% pada kuartal I

Menkeu mengatakan, mobilitas masyarakat akan terus melaju di kuartal II-2020 sejalan dengan program vaksinasi dari pemerintah. Adapun sejak awal Maret, Menkeu mengatakan semua aktivitas luar rumah menunjukkan sinyal positif dengan aktivitas di tempat perbelanjaan retail dan transportasi yang meningkat.

Meskipun konsumsi belum begitu terungkit, Sri Mulyani menyampaikan dari sisi investasi justru menandakan pemulihan dini. Hal ini tercermin dari indikator pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menunjukkan perbaikan.

Konsumsi semen tumbuh positif di Februari sebesar 0,8% yoy. Sementara, impor besi dan baja tumbuh 0,2% yoy. Kemudian untuk PMTB kendaraan bermotor penjualan mobil niaga kembali meningkat di Februari meskipun masih terkontraksi 17,2%.

Lalu untuk impor barang modal membaik signifikan yaitu tumbuh 17,7% yoy pada bulan lalu. Selanjutnya untuk pertumbuhan kredit menunjukkan sedikit perbaikan di Januari walaupun masih dalam level negatif. 

Baca Juga: Fitch pertahankan peringkat utang Indonesia, ini kata Bank Indonesia

Di sisi lain, Menkeu juga mencermati tekanan inflasi masih menjadi bayang-bayang konsumsi. Tren inflasi rendah saat ini menunjukkan daya beli masyarakat yang belum pulih.

Hal ini tentunya sejalan dengan keberhasilan program vaksinasi. “Untuk itu perlu meningkatkan confidence masyarakat menegah atas yang jumlah konsumsinya belum pulih,” kata Menkeu dalam Konferensi Pers Realisasi APBN, Rabu (23/3).

Selanjutnya: Bisnis ritel jadi salah satu sektor usaha yang terperosok paling dalam akibat pandemi

 

Editor: Tendi Mahadi
Terbaru