Puncak Kasus Varian BA.4 & BA.5 di Indonesia Diprediksi Juli 2022, Waspada Yuk!

Jumat, 17 Juni 2022 | 10:28 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Puncak Kasus Varian BA.4 & BA.5 di Indonesia Diprediksi Juli 2022, Waspada Yuk!


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat diminta bersiap untuk menghadapi gelombang baru Covid-19, seiring ditemukannya subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia. 

Melansir laman setkab.go.id, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, seperti negara dunia lainnya, Indonesia mengalami kenaikan kasus positif Covid-19 yang dipicu oleh subvarian BA.4 dan BA.5. 

Hingga saat ini, Budi menyampaikan, pihaknya terus memonitor perkembangan kasus Covid-19 global dan pola penyebarannya.

"Kita amati di Afrika Selatan sebagai negara pertama yang (varian) BA.4 dan BA.5 masuk, puncaknya itu sepertiga dari puncaknya Omicron atau Delta sebelumnya. Jadi kalau kita Delta dan Omicron puncaknya di 60 ribu kasus sehari, kira-kira nanti estimasi berdasarkan data di Afrika Selatan mungkin puncaknya kita di 20 ribu per hari,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan kasus konfirmasi harian sekitar seribu kasus per hari, Menkes menyampaikan bahwa Indonesia saat ini masih berada pada level 1. 

Baca Juga: Kasus Covid-19 Terus Turun, WHO: Masih Terlalu Dini untuk Menyatakan Kemenangan

Standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk kasus konfirmasi level 1 adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100 ribu penduduk.

“Kalau di-translate untuk penduduk Indonesia sekitar 7.700 per hari. Jadi itu adalah level threshold pertama di mana level transmisi berdasarkan WHO Indonesia akan naik ke level 2,” ujarnya.

Menkes menambahkan, puncak kasus varian BA.4 dan BA.5 diprediksi terjadi pada bulan Juli mendatang.

"(Puncaknya) satu bulan sesudah diidentifikasi, jadi sekitar minggu ke-3-minggu 4 Juli, dan kemudian nanti akan turun kembali," tambahnya.

Baca Juga: UPDATE Covid-19 Indonesia, 16 Juni 2022: Tambah 1.173 Kasus Baru, Meninggal 3

Budi menegaskan, pemerintah akan terus memonitor ketat gelombang varian BA.4 dan BA.5 tersebut. Menurutnya, satu hal penting yang harus dilihat adalah bahwa fatality rate-nya atau kematiannya itu jauh lebih rendah. 

"Mungkin seperduabelas atau sepersepuluh dari Delta dan Omicron,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru