Pertumbuhan ekonomi Malaysia dan India diperkirakan akan jauh lebih cepat

Rabu, 22 September 2021 | 06:30 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Pertumbuhan ekonomi Malaysia dan India diperkirakan akan jauh lebih cepat


KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Varian delta Covid-19 telah memberikan tekanan telak bagi Malaysia dan India dalam beberapa bulan terakhir. Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi kedua negara ini diperkirakan akan jauh lebih cepat di 2022, menurut survei terbaru Bloomberg pada Selasa (21/9).

Para ekonom meningkatkan prospek pertumbuhan Malaysia ke tingkat paling tinggi di kawasan Asia Pasifik. Naik 85 basis poin (bps) menjadi 5,65% tahun depan. Sedangkan, India berada di urutan kedua, dengan ekonominya diperkirakan tumbuh 6,7%, naik 80 bps dari prediksi sebelumnya. 

Secara umum, para ekonom itu menaikkan proyeksi pertumbuhan mereka untuk sebagian besar negara benua Asia. Namun mereka melihat potensi penurunan pertumbuhan ekonomi untuk Thailand dan Selandia Baru, yang mengalami penurunan setidaknya 20 basis poin. Sementara prospek Indonesia sedikit berubah.

Malaysia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat infeksi baru harian tertinggi di dunia selama sebulan terakhir. Secara politik, negeri jiran juga mengalami perubahan kepemimpinan, yang tidak memberikan risiko ekonomi langsung. 

Baca Juga: Taiwan dan China Terlibat Pertengkaran Terbaru, Kali Ini Soal Srikaya dan Jambu Air

Kinerja perekonomian Malaysia ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan ekspor yang tetap kuat. Seiring dengan pertumbuhan produk domestik bruto kuartal kedua yang naik sebesar 16,1%. Begitupun dengan India yang terus mengalami permintaan domestik yang kuat dan terjaga. Ini mendorong pertumbuhan ekonomi India di jalur tercepat di dunia pada tahun ini hingga Maret 2022 mendatang.

Di sisi lain, infeksi mingguan baru Covid-19 di negara bekas jajahan Inggris itu turun ke level terendah dalam lebih dari 6 bulan pada hari Minggu. Kerugian ekonomi negara itu sejauh ini masih terbatas.

“Terdapat sentimen positif, saat banyak perusahaan menyatakan akan beradaptasi lebih baik dengan pandemi. Kondisi keuangan negara yang stabil, dan limpahan pertumbuhan global yang kuat,” kata Madhavi Arora, ekonom utama di Emkay Global Financial Services Ltd.

Lain halnya dengan Selandia Baru yang harus berjuang lebih keras demi memulihkan perekonomian dari sengatan Covid-19. Survei tentang tren harga konsumen menunjukkan revisi terbesar terhadap prospek Selandia Baru. Inflasi di negara itu  terlihat meningkat 90 bps menjadi 2,3% pada 2022. Singapura dan Australia kemungkinan akan mengikuti dengan inflasi utama yang terlihat naik setidaknya 40 bps.

Thomas Rudgley, ekonom di Oxford Economics bilang upah dan inflasi menunjukkan kenaikan yang kuat untuk Selandia Baru. Inflasi inti akan terus naik hingga migrasi dilanjutkan dan pengetatan pasar tenaga kerja.

Selanjutnya: Latihan kontra-terorisme, Rusia, China, dan 7 negara lain kerahkan 5.500 pasukan

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru