CLOSE [X]

Penelitian teranyar: Lampu UV-LED bisa bunuh 99,9% virus corona

Selasa, 29 Desember 2020 | 23:50 WIB Sumber: Jerusalem Post
Penelitian teranyar: Lampu UV-LED bisa bunuh 99,9% virus corona


KONTAN.CO.ID - Radiasi ultraviolet adalah metode umum untuk membunuh bakteri dan virus. Para peneliti dari Universitas Tel Aviv telah membuktikan, virus corona baru bisa dibunuh secara efisien, cepat, dan murah menggunakan dioda pemancar cahaya ultraviolet alias UV-LED pada frekuensi tertentu.

"Kami menemukan, membunuh virus corona cukup mudah, menggunakan lampu LED yang memancarkan sinar ultraviolet," kata Prof Hadas Mamane, Kepala Program Teknik Lingkungan Sekolah Teknik Mesin Universitas Tel Aviv, yang memimpin penelitian bersama Prof Yoram Gerchman dan Dr Michal Mandelboim.

Mengutip The Jerusalem Post, menurut Mamane, lampu UV-LED membutuhkan waktu kurang dari setengah menit untuk menghancurkan lebih dari 99,9% virus corona baru.

Penelitian Universitas Tel Aviv tersebut adalah yang pertama di dunia dan terbit awal bulan ini di Journal of Photochemistry and Photobiology B: Biology.

Mamane menjelaskan, UV-LED tersedia dalam berbagai panjang gelombang, yang dikenal sebagai A, B, dan C. UV-A memiliki panjang gelombang pada kisaran 315 nanometer (nm) hingga 400 nm. 

Baca Juga: Super Gonnorhoea, dampak virus corona yang bisa Anda alami

UV-B, juga dikenal sebagai sinar gelombang sedang, mempunyai panjang gelombang 280-315 nm. Sementara UV-C memiliki panjang gelombang 200-280 nm.

UV-A dipancarkan oleh matahari (dan sumber buatan seperti tanning bed) dan lebih lemah dari UV-B dan UV-C. Sinar ini memiliki beberapa manfaat bagi manusia, seperti pembentukan vitamin D, tetapi juga menyebabkan kulit terbakar dan dalam beberapa kasus, kanker kulit.

Sedang radiasi UV-B dan C tidak pernah benar-benar mencapai manusia secara alami. Sebab, sinar ini diserap oleh lapisan ozon Bumi.

Sangat efektif sebagai disinfeksi 

Panjang gelombang ultraviolet, yang sedang diteliti oleh para peneliti Universitas Tel Aviv, sangat efektif sebagai disinfeksi menggunakan bohlam UV-LED.

“Kami tahu, misalnya, staf medis tidak punya waktu untuk mendisinfeksi secara manual, katakanlah, keyboard komputer dan permukaan lain di rumahsakit. Dan, akibatnya adalah infeksi dan karantina,” ujar Mamane. 

Baca Juga: WHO: Tahun depan dunia hadapi tantangan dan varian baru virus corona

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru