Pasar saham membaik, kinerja investasi asuransi jiwa diramal pulih di tahun ini

Selasa, 05 Januari 2021 | 06:45 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Pasar saham membaik, kinerja investasi asuransi jiwa diramal pulih di tahun ini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja investasi industri asuransi cukup tertekan sepanjang 2020 akibat sentimen pandemi Covid-19. Namun tahun ini diprediksi hasil investasi semakin membaik seiring menggeliatnya kinerja pasar saham akibat pemulihan ekonomi dan rencana vaksinasi.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), imbal hasil dari investasi mengalami perlambatan sebesar 252,8% pada Kuartal III Tahun 2020 yang mengalami minus Rp 17,57 triliun. Padahal hasil investasi pada September 2019 mencapai Rp 11,50 triliun.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menyatakan tren perbaikan hasil investasi sudah bergulir sejak kuartal ketiga 2020. Namun, perkembangan kasus Covid-19 masih menjadi acuan pergerakan IHSG.

Baca Juga: Begini upaya BPD tingkatkan pangsa pasar di wilayah asalnya

“Saya pikir, kita tetap optimis tapi juga hati-hati. Kita berharap dengan adanya vaksin, tidak muluk-muluk. Setidaknya bisa kembali ke sebelum Covid-19. Pertumbuhan investasi di asuransi jiwa itu cukup lumayan, pertumbuhannya sekitar 15% hingga 20%, kita harapkan ke sana dulu,” ujar Togar belum lama ini.

Wiroyo Karsono, Ketua Bidang Komunikasi dan Marketing AAJI mengaku strategi investasi di 2020 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila biasanya penempatan di saham dan reksa dana meningkat, tahun lalu mengalami penurunan.

“Pada kuartal ketiga 2020, Surat Berharga Negara (SBN) itu mengalami kenaikan, jadi 18,6% tahun lalu 15,3%. Sukuk dari 6,7% jadi 8,9%. Sementara saham turun, padahal tahun lalu saham ini sama dengan reksadana 37,7% sekarang tinggal hanya 24,8%. Reksadana juga berkurang sedikit dari 34% jadi 33%,” papar Wiroyo.

AAJI mengakui kesulitan untuk menyerap SBN yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Lantaran instrumen investasi ini cukup langka dan juga dikoleksi oleh investor institusi lainnya.

Asosiasi menyarankan agar pemerintah menyiapkan SBN khusus untuk industri asuransi jiwa. Tujuannya, agar dapat memenuhi porsi kewajiban 30% terhadap total portofolio investasi sesuai ketentuan regulator.

Baca Juga: Ini strategi IFG jadi pemain besar di industri asuransi

Ketua Bidang Keuangan, Pajak, dan Investasi AAJI Simon Imanto menyampaikan guna antisipasi likuiditas jangka panjang, AAJI menyarankan untuk melirik surat utang dari perusahaan BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur. Utamanya proyek jalan tol yang sudah berjalan, Ia menyebut hal ini lebih terukur risikonya.

“Setia pada SBN jangka panjang, kita akan selalu berpartisipasi, karena mendukung asset liability management yang ada di industri asuransi jiwa. Namun, selama unitlink masih mendominasi, maka strategi investasi sesuai pilihan nasabah,” papar Simon.

Hal ini tidak akan terlalu merubah komposisi investasi asuransi jiwa. Ia memprediksi, komposisi saham, reksadana, dan obligasi akan selalu berkisar 65% dari total aset kelolaan.

Asal tahu saja, AAJI mencatatkan unitlink memberikan kontribusi 63,9% dari total pendapatan premi. Sedangkan asuransi tradisional hanya 36,1%. Adapun total pendapatan premi industri asuransi jiwa mengalami perlambatan 7,9% dari Rp 145,41 triliun menjadi Rp 133,99 triliun hingga September 2020.

CEO PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia Edy Tuhirman menyebut telah menerapkan strategi matching liability and asset dengan durasi investasi. Hal ini mampu membuat Generali tetap bisa bertahan di tengah krisis pandemi Covid-19.

Baca Juga: Perkuat kualitas SDM, IFG bentuk corporate university

“Generali banyak menempatkan pada instrumen jangka panjang, Kita banyak di obligasi pemerintah. Kita ikut mendorong pembangungan di negara ini, kita sudah lebih dari 50% dari kewajiban 30%. Tapi kita juga melihat sekarang ini juga sedang bagus untuk masuk ke saham,” tuturnya.

Selain itu, guna mengoptimalkan kinerja investasi unitlink, Generali telah memanfaatkan teknologi RoboARMS. Lewat fitur ini, di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, pada November 2020 tercatat sebanyak 98% dari nasabah Generali yang sudah mengaktifkan RoboARMS. Kinerja investasinya di atas IHSG dan bahkan diantaranya mencapai 29% di atas IHSG.

Hingga kuartal ketiga 2020, Generali mencatatkan premi Rp 1,75 triliun atau turun 4% yoy dari posisi September 2019 sebanyak Rp 1,83 triliun Kendati demikian, premi lanjutan masih mampu tumbuh 4% yoy menjadi Rp 1,07 triliun.

Selanjutnya: Jasindo targetkan pendapatan premi tumbuh 12% sepanjang tahun 2021

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru