NPL perbankan diprediksi bakal terkerek pada 2021, imbas perpanjangan restrukturisasi

Selasa, 29 Desember 2020 | 05:30 WIB   Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
NPL perbankan diprediksi bakal terkerek pada 2021, imbas perpanjangan restrukturisasi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejalan dengan pertumbuhan kredit yang diprediksi membaik, tahun depan, laju pertumbuhan rasio non performing loan (NPL) diprediksi bakal ikut naik. Meski begitu, sebagian besar bankir yang dihubungi Kontan.co.id menilai peningkatannya tidak akan terlalu masif. 

Hal ini didasarkan atas kebijakan perpanjangan restrukturisasi kredit hingga 2022 serta pelonggaran penilaian kualitas kredit oleh pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Direktur Treasury dan Internasional Banking PT Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan, adanya perpanjangan itu praktis akan memberi peluang lebih besar bagi banyak debitur untuk memanfaatkan perpanjangan waktu program relaksasi tersebut. 

"Sementara ini (stimulus) masih membantu terjaganya rasio NPL di bawah 5%. Di bulan Oktober, rasio NPL masih terjaga pada 3,15% (industri). Secara umum kondisi perbankan Indonesia masih terjaga dengan baik," paparnya belum lama ini. 

Baca Juga: Kredit perbankan diyakini lebih menggeliat di tahun depan, ini sebabnya

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Atturidha menjelaskan hingga November 2020 rasio NPL Bank Mandiri ada di level 3,4%. Pihaknya memproyeksikan angka tersebut akan bertahan atau sedikit mengalami perbaikan di akhir tahun ini. 

Adapun, di tahun 2021 Bank Mandiri memprediksi NPL akan terjaga di level yang cenderung stabil. "Pada tahun depan kami melihat kecenderungan NPL akan tetap terjaga di kisaran 3,4%-3,5% seiring dengan perpanjangan program restrukturisasi dan potensi adanya pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi covid-19," ujar Rudi, Senin (28/12).

Senada, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja secara singkat mengatakan selama program restrukturisasi dilanjutkan, seharusnya posisi NPL perbankan tidak banyak berubah. 

Hanya saja, Jahja menegaskan bahwa setiap bank punya kemampuan yang berbeda dalam memitigasi risiko. Termasuk pembentukan cadangan kredit bermasalah. 
Untuk saat ini, BCA masih mengkalkulasi kondisi ekonomi dan industri di tahun depan. 

Untuk berjaga-jaga, Jahja mengisyaratkan pihaknya dimungkinkan untuk menambah pencadangan. Kendati sampai September 2020 rasio pencadangan BCA sudah menembus 243,5%. Jauh dari posisi setahun sebelumnya 163,8%. 

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru