Reporter: Leni Wandira | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
“Saat ini Hyundai mengacu pada regulasi yang masih berlaku secara resmi, sembari memantau perkembangan kebijakan pemerintah. Penetapan harga dan strategi penjualan EV mempertimbangkan regulasi, struktur biaya, dan daya beli konsumen agar tetap kompetitif,” jelas Fransiscus.
Ia mengakui, hingga kini belum ada arahan resmi terkait insentif PPN kendaraan listrik di tahun 2026. Meski demikian, komunikasi dengan pemerintah tetap berjalan.
“Kami tetap berkomitmen pada pengembangan kendaraan listrik di Indonesia dan siap menyesuaikan strategi seiring kejelasan kebijakan ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, pantauan Kontan di salah satu dealer BYD di Jakarta Barat menunjukkan ketidakpastian insentif mulai berdampak langsung pada harga jual. Tenaga penjual menyebutkan, varian terlaris BYD Atto 1 telah mengalami kenaikan harga sejak akhir November 2025, dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta.
Ia memperkirakan, masih terbuka peluang kenaikan harga lanjutan, bahkan hingga puluhan juta rupiah, apabila kepastian insentif mobil listrik tak kunjung diberikan.
Tonton: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem 10–11 Januari 2026! Hujan Lebat & Angin Kencang Mengancam
“Harga OTR Jakarta di semua dealer sama. Perbedaannya hanya promo seperti DP atau aksesori. Untuk varian lain seperti BYD Sealion, BYD M6, dan Dolphin sejauh ini belum ada kenaikan signifikan, tapi ke depan tetap ada kemungkinan naik,” ujarnya.
Pelaku industri berharap pemerintah segera mengetok palu kebijakan insentif mobil listrik. Tanpa kepastian, pasar kendaraan listrik dikhawatirkan terus melemah dalam beberapa bulan ke depan dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













