Menjaga Daya Beli Masyarakat Agar Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2022 Tetap Tinggi

Senin, 08 Agustus 2022 | 07:00 WIB   Reporter: Bidara Pink, Dendi Siswanto
Menjaga Daya Beli Masyarakat Agar Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2022 Tetap Tinggi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 sebesar 5,44% secara tahunan atau year on year (yoy) patut disyukuri. Pertumbuhan ekonomi  ini telah melampaui pertumbuhan ekonomi pra Covid-19. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2022 adalah konsumsi rumah tangga. Sektor konsumsi tumbuh 5,51% dan memberi andil 2,92% terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kemudian disusul sektor net ekspor yang tumbuh 19,74% dan berkontribusi 2,14% pada pertumbuhan ekonomi. Komponen investasi  tumbuh 3,07% dan berkontribusi 0,94% pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Salah satu momentum yang mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022 adalah bulan Ramadan dan Idul Fitri yang mendongkrak konsumsi masyarakat dan sektor lainnya. 

Baca Juga: Sektor-sektor yang Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi pada Semester II 2022

Namun prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV 2022 diproyeksi tidak mudah. Sejumlah tantangan ekonomi telah menghadang di depan. 

Perang antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Memanasnya Laut China Selatan akibat kunjungan kontroversial Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan telah memicu kemarahan China dan mendorong latihan militer besar-besaran Negeri Tirai Bambu tersebut di sekitar perairan Taiwan. 

Kondisi ini dikhawatirkan menghambat rantai pasok global mengingat banyaknya kapal dagang yang melewati Laut China Selatan. Selain itu, kekhawatiran konflik ini bisa semakin membesar dan berpotensi memicu peperangan yang membuat kawasan Asia menjadi tidak kondusif sebagai tempat pertumbuhan ekonomi.

Kondisi geopolitik ini turut menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan ekonomi global termasuk Indonesia. Untuk itu, pemerintah harus pandai-pandai mencari cara mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2022 mendatang.

Baca Juga: Pemerintah Dorong Kinerja Industri Manufaktur, Ini Permintaan Pengusaha

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan sektor yang potensi mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2022 adalah sektor manufaktur. Porsi sektor manufaktur yang besar pada pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu andalan pemerintah.

"Kalaupun nanti pertumbuhan tak setinggi periode sebelumnya, tetapi tetap menjadi pendorong pertumbuhan," tutur Riefky kepada Kontan.co.id, Minggu (7/8).

Berdasarkan data BPS sektor manufaktur tumbuh 4,01% pada kuartal II 2022. Industri makanan dan minuman menjadi salah satu penopang sektor ini yang tumbuh 3,68% secara tahunan. 

Kemudian industri teksil dan pakaian yang tumbuh impresif 13,74% secara tahunan. Industri manufaktur berkontribusi sebesar 0,82% pada pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022.

Penjualan makanan ringan kemasan

Riefky melanjutkan, sektor transportasi pergudangan juga bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2022. Disusul dengan sektor pariwisata yang mulai menggeliat seturut longgarnya pembatasan sosial dan turunnya kasus positif Covid-19. 

Sektor perdagangan besar dan eceran juga dinilai bisa memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi kuartal III. Hal ini seturut peningkatan konsumsi masyarakat, kendati dibayang-bayangi inflasi.

Baca Juga: Sektor-Sektor Ekonomi yang Mendominasi Terhadap PDB Masih Berkinerja Lamban

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di kuartal III tetap tinggi, pemerintah harus bisa menekan laju inflasi yang mulai dikhawatirkan saat ini. 

Dengan menekan inflasi, maka daya beli masyarakat bisa dipertahankan. "Kalau daya beli masih bertahan, maka permintaan akan produk industri pengolahan tetap terjaga," tutur Fajar.

Fajar mengatakan salah satu cara menekan inflasi dan mempertahankan daya beli masyarakat adalah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif pada industri manufaktur agar tetap tumbuh tinggi. Seperti memberikan insentif perpajakan. Kemudian menunda penerapan pajak karbon. Percepatan pembangunan infrastruktur dan akses logistik juga turut menopang pertumbuhan sektor manufaktur.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 bisa mencapai 5,2% yoy.

Airlangga mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah akan mendorong berbagai lapangan usaha seperti manufaktur, informasi dan komunikasi, makanan dan minuman, transportasi, pergudangan dan pertambangan.

Baca Juga: Inflasi Global Dikhawatirkan Tekan Laju Ekspor Indonesia pada Paruh Kedua 2022

“Jadi itu sektor yang digenjot. Khusus pertambangan, kita sedang melihat harga komoditas ini masih tinggi, nah ini kami genjot untuk memperluas pasar ekspor,” sambungnya, saat menjawab pertanyaan Kontan.co.id, Jumat (5/8). 

Pemerintah juga kaan mendorong pertumbuhan sektor agrikultur, utamanya memperluas pasar ekspornya. Airlangga juga menjanjikan insentif untuk sektor manufaktur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru