Melihat dampak kenaikan harga pangan global terhadap Indonesia

Senin, 07 Juni 2021 | 06:40 WIB   Reporter: Abdul Basith Bardan
Melihat dampak kenaikan harga pangan global terhadap Indonesia

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Lonjakan harga pangan global diperkirakan akan ikut terasa sampai ke Indonesia. Hal itu mengingat masih terdapat komoditas pangan yang hingga saat ini masih dipenuhi dengan cara impor. Namun, pengaruh tersebut tidak akan dirasakan sepenuhnya.

"Kenaikan harga pangan tersebut akan ditransmisikan, meski tidak sepenuhnya, ke harga domestik terutama yang dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan dari pasokan dalam negeri," ujar Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (6/6).

Kasan menyebut Badan Pangan Dunia (FAO) melaporkan kenaikan indeks harga pangan di bulan Mei 2021. Kenaikan tersebut baik dibandingkan dengan bulan April 2021 atau Month on month (MoM) mau pun dengan bulan Mei 2020 atau year on year (YoY).

Berdasarkan laporan FAO, kenaikan bulanan pada bulan Mei menjadi yang tercepat setelah satu dekade. FAO mencatat indeks harga pangan dunia bulan Mei rata-rata 127,1 poin.

Baca Juga: Meski inflasi diperkirakan menanjak, perbaikan daya beli hanya sesaat

Kenaikan indeks harga pangan FAO pada bulan Mei 2021 sebesar 4,8% secara MoM dan 39,7% secara YoY. Sementara kenaikan tertinggi sebelumnya terjadi lada bulan September 2011 sebesar 7,6%.

Kondisi pandemi virus corona (Covid-19) menjadi pendorong terjadinya kenaikan harga pangan. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain adalah minyak nabati, daging, gula, serealia, dan produk susu.

"Index harga pangan yang naik terutama diantaranya 3 jenis tersebut yang dipicu oleh pengetatan pasokan akibat pandemi dan kenaikan permintaan global," terang Kasan.

Indeks harga sereal FAO meningkat 6% dari April didorong oleh harga jagung. Meski begitu saat ini harga jagung dan gandum mengalami pelemahan sementara harga beras stabil.

Baca Juga: Proyeksi inflasi bisa sampai 4% tahun depan, begini penjelasan Sri Mulyani

Editor: Noverius Laoli
Terbaru