kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Media China serang AS: Washington takkan berani menghadapi Beijing


Senin, 16 November 2020 / 14:06 WIB

Sumber: Express.co.uk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Kini, The Global Times mengklaim bahwa semua kritik dari Barat sebenarnya tidak ada artinya.

Surat kabar itu menulis: "Apakah ada negara Barat yang berpikir bahwa ia memiliki kemampuan untuk menekan China agar menyerah? Tidak sama sekali. Pasukan Barat memiliki pertimbangan yang cukup rumit dan egois ketika mereka melangkah di perairan berlumpur soal Hong Kong. Mereka ingin menahan China dengan mengacaukan Hong Kong, tetapi mereka tidak mungkin mengorbankan kepentingan mereka sendiri untuk mencari dominasi atas urusan Hong Kong."

The Global Times juga menulis: "Mereka tahu bahwa mereka tidak akan berhasil, juga tidak punya nyali untuk melakukan itu. Tidak ada kekuatan eksternal yang dapat menjadi pengungkit untuk membantu oposisi menantang pemerintah pusat secara konstitusional."

Baca Juga: Tanpa AS, China bakal keruk keuntungan dari blok perdagangan baru di Asia?

Trump tidak dijadwalkan untuk meninggalkan Gedung Putih selama dua bulan setelah kekalahannya dalam pemilihan umum AS dari Biden.

Namun selama waktu itu, Presiden AS saat ini masih dapat memperluas tindakan Amerika terhadap Hong Kong.

Setelah pemilihan AS, pemerintahan Trump memberlakukan sanksi baru pada mereka yang berasal dari China dan Hong Kong yang diyakini terlibat dalam mengikis otonomi terbatas wilayah itu.

Baca Juga: Asia bakal punya blok perdagangan terbesar di dunia, China paling diuntungkan?

Laporan berikutnya dari Departemen Luar Negeri tentang otonomi Hobng Kong akan diterbitkan dalam beberapa minggu mendatang.

Hal ini dapat memicu sejumlah sanksi lain terhadap individu dan perusahaan terkait dengan semakin terkikisnya hak asasi manusia di Hong Kong.

Namun dalam peringatan lebih lanjut, Pemerintah China dan media pemerintahnya telah berjanji untuk tetap berpegang pada masalah tersebut.

The Global Times juga menulis: "Hong Kong telah kembali ke China. Oposisi Hong Kong harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh rakyat China. Jika mereka menolak kembalinya Hong Kong, mereka lebih baik bermigrasi ke negara-negara Barat yang mereka sembah."

Selanjutnya: China: Telah ditemukan virus corona pada produk daging beku dari berbagai negara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×