Lelang operator Pelabuhan Patimban memiliki nilai investasi hingga Rp 16 triliun

Selasa, 01 Desember 2020 | 10:05 WIB   Reporter: Selvi Mayasari
Lelang operator Pelabuhan Patimban memiliki nilai investasi hingga Rp 16 triliun


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perhubungan menyebut, pengumuman lelang operator pelabuhan Patimban ditargetkan di akhir Desember 2020. Seperti diketahui sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah mendapatkan perusahaan operator yang lolos tahap prakualifikasi proyek kerja sama pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Pelabuhan Patimban, Jawa Barat.

Adalah PT CT Corp Infrastruktur Indonesia yang menjadi salah satu kandidat yang mempunyai peluang besar mengelola Pelabuhan Patimban, Subang Jawa Barat. Pada lelang badan usaha pelaksana (BUP) atau operator Pelabuhan Patimban, CT Corp menggandeng tiga mitra. Ketiga  mitra itu adalah PT Indika Logistic & Support Services, PT U Connectivity Services, dan PT Terminal Petikemas Surabaya.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengungkapkan, saat ini sedang dilakukan proses penjelasan kepada peserta lelang yang lolos prakualifikasi untuk nantinya memasukkan dokumen proposal proses Request for Proposal (RFP). "Status saat ini belum ada pemenang lelang karena prosesnya masih  berjalan," ujar Adita kepada kontan.co.id, Senin (30/11).

Lelang operator Pelabuhan Patimban memiliki nilai investasi hingga Rp 16 triliun dengan konsesi selama 40 tahun. Pada Desember 2020 nanti, tahap pertama Pelabuhan Patimban akan beroperasi.

Kementerian Perhubungan bakal mewajibkan pemenang lelang operator Pelabuhan Patimban untuk mengerjakan proyek senilai Rp 16 triliun tersebut. Ada timeline yang mesti dipenuhi oleh pemenang lelang. Tahap ini mencakup terminal petikemas kapasitas 800.000 TEUs dan terminal kendaraan yang bisa menampung 360.000 unit per tahun.

Pemenang lelang diwajibkan menyiapkan perencanaan dan penyediaan fasilitas suprastruktur Tahap I-1 dan Tahap I-2, lalu perusahaan juga mesti mengoperasikan dan pemeliharaan terminal peti kemas Tahap I-1 (2021-akhir masa kerja sama) dengan kapasitas 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) TEUs dan Tahap I2 (2027-akhir masa kerja sama) dengan kapasitas 3.500.000 (tiga juta lima ratus ribu) TEUs sehingga kapasitas keseluruhan menjadi 3.750.000 (tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu) TEUs.

Selanjutnya, mengoperasikan dan pemeliharaan terminal kendaraan Tahap I-1 (2021-akhir masa kerja sama) dengan kapasitas 218.000 (dua ratus delapan belas ribu) CBU dan Tahap I-2 (2027-akhir masa kerja sama) dengan kapasitas 382.000 CBU (tiga ratus delapan puluh dua ribu) sehingga kapasitas keseluruhan menjadi 600.000 (enam ratus ribu) CBU.

Selain itu, pemeliharaan kolam putar dan kolam pelabuhan (maintenance dredging), perolehan pembiayaan yang diperlukan dan menyediakan ekuitas minimal 30% (tiga puluh persen) dari perkiraan nilai Proyek, pengalihan kepemilikan Aset Proyek kepada PJPK pada akhir masa kerja sama.

Baca Juga: Pelabuhan Patimban dan Tanjung Priok dorong efisiensi waktu dan biaya logistik

Pengamat Infrastruktur Kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning mengungkapkan, pemenang lelang operator pelabuhan nantinya harus melakukan penyediaan berbagai fasilitas terminal kontainer dan terminal kendaraan termasuk berbagai peralatan bongkar-muat dan bangunan pergudangan yang terkait layanan atas dua terminal ini, yaitu pelabuhan tanjung priok dan patimban.

"Tentu saja untuk kebutuhan pengoperasian dan perawatan fasilitas dan terminal kontainer dan kendaraan, dan juga pemeliharaan kolam putat dan kolam sandar yang saat ini sudah dibangun pemerintah," katanya.

Selain itu menurutnya, besaran penambahan suprastruktur termasuk peralatan dan info struktur yang dibutuhkan dalam pengoperasian terminal kontainer dan kendaraan diperkirakan sebesar Rp 16 triliun. "Jadi jika ekuitas konsorsium telah terpenuhi 30% saat ini berarti konsorsium perlu menyedian dana dari sumber lain sebesar 70% nya," ujar Saut.

Tentunya menurut Saut, mungkin bertahap sesuai dengan rencana konsorsium dan respon pasar pengguna jasa baik untuk trafik kontainer dan kendaraan. Termasuk berbagai layanan jasa yang dapat ditawarkan konsorsium operator Patimban.

Saut mengatakan, secara detail infrastruktur yang dibutuhkan berupa lapangan penumpukan kontainer (container yard, CY), lapangan dan gedung parkir kendaraan, container freight stasiun. Sementara peralatan bongkar muat CC di dermaga dan yard serta di CFS, gudang serta lapangan parkir. Serta fasilitas dan sistem teknologi informasi untuk layanan kapal, kontainer san kendaraan.

"Sementara untuk suprastruktur, perlu menyediakan bangunan perkantoran, gudang, fasilitas parkir mobil dan peralatan bongkar-muat," imbuh Saut.

Selanjutnya: Menhub: Pelabuhan Patimban bisa tekan biaya logistik

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru