Ekonomi

Laju industri manufaktur China mendorong harga tembaga

Kamis, 10 Desember 2020 | 09:25 WIB   Reporter: Danielisa Putriadita
Laju industri manufaktur China mendorong harga tembaga


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tembaga yang menjadi acuan pemulihan ekonomi global berada dalam tren menguat. Permintaan tembaga dari China jadi penyokong utama kenaikan harga tembaga. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (8/12), harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) terkoreksi tipis 0,14% ke US$ 7.699 per metrik ton. Namun, pada Jumat (4/12), harga tembaga sempat capai rekor tertinggi di US$ 7.760 per metrik ton. 

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan penguatan harga tembaga menjadi indikator bahwa ekonomi global sedang membaik. Sebaliknya, pelemahan harga tembaga bisa menjadi indikasi pelemahan ekonomi global. Harga tembaga memang dikenal sebagai refleksi dari kekuatan ekonomi global dengan China yang membawa pengaruh terbesar.

Baca Juga: Harga tembaga diproyeksikan terus bullish setelah sentuh rekor tertinggi

"Penguatan harga tembaga mengonfirmasi bahwa manufaktur China sudah sehat dan ketika permintaan dan harga tembaga menguat maka komoditas lain juga akan ikut menguat," kata Wahyu, Rabu (9/12). 

meningkatnya permintaan tembaga oleh China juga menjadi sentimen penting. Harga tembaga memang sempat anjlok di awal tahun dan berhasil rebound di Maret hingga saat ini. Penguatan harga ini terjadi karena permintaan tembaga mulai naik di tengah pasokan yang menipis. 

Sebelumnya, saat pandemi menyerang di awal tahun produksi tembaga tentu menurun. Namun, saat ini China yang mengonsumsi hampir setengah dari pasokan tembaga global ekonominya sudah membaik dan menyokong permintaan tembaga. 

Wahyu mencatat selama enam bulan pertama, meski terjadi pandemi, impor tembaga mencapai 2,84 juta meningkat 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, peningkatan impor tembaga oleh China naik 50% secara bulanan di Juni dan menjadi rekor tertinggi di 656.482 ton. 

Baca Juga: Tarif pungutan ekspor CPO tinggi, pengusaha: Kami kaget sekali!

Wahyu memproyeksikan permintaan yang kuat untuk logam dari China akan terus berlanjut. Sentimen pendukung datang dari stimulus pemerintahan China, serperti pembebasan pajak, suku bunga rendah demi memulihkan ekonomi dampak pandemi. 

Untuk jangka panjang, Wahyu juga melihat harga tembaga masih berpotensi bullish karena didukung peralihan China ke sistem energi terbarukan. "Tembaga merupakan konduktor listrik non logam mulia terbaik yang kemungkinan akan menjadi pendorong utama permintaan di masa depan jika China beralih ke sistem energi terbarukan," kata Wahyu. 

Editor: Tendi Mahadi


Terbaru