Nasional

Jatim berpotensi dilanda tsunami besar, ingat metode 20 detik, 20 menit, 20 meter

Jumat, 11 Juni 2021 | 04:05 WIB Sumber: Kompas.com
Jatim berpotensi dilanda tsunami besar, ingat metode 20 detik, 20 menit, 20 meter

ILUSTRASI. Sebagai penduduk Indonesia yang terpapar resiko bencana alam, kita perlu paham cara mitigasi tsunami. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/hp.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia memiliki wilayah dengan gunung berapi yang aktif dan rawan mengalami gempa bumi. Hal ini tidak mengherankan mengingat posisi Indonesia terletak di ring of fire, yang merupakan pertemuan lempeng tektonik.Hal ini senada dengan pernyataan BMKG, 

“Indonesia memiliki potensi gempabumi yang dapat terjadi kapan saja dengan berbagai kekuatan.” 

Selain itu, Indonesia adalah negara kepulauan dan merupakan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Kondisi wilayah Indonesia tersebut membuat Indonesia terpapar resiko tsunami. 

Dilansir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang menjalar dengan kecepatan mencapai lebih dari 900 kilometer per jam atau lebih. Gelombang tsunami bisa meninggi hingga puluhan meter dan bersifat merusak. 

Baca Juga: Cuma 16 menit waktu buat selamatkan diri, jika tsunami hantam pantai Selatan Blitar

Salah satunya adalah hasil pemodelan para ahli yang dipaparkan dalam seminar Kajian dan Mitigasi di Jawa Timur. Pemodelan matematis menunjukkan bahwa Jawa Timur berpotensi diguncang gempa berkekuatan magnitudo 8,9 dengan tinggi tsunami mencapai 29 meter. 

Hasil pemodelan ini hanya perhitungan matematis dan bukan prediksi. Sampai saat ini belum ada metode yang mampu memprediksi gempa bumi dan tsunami secara akurat. Namun, sebagai penduduk Indonesia yang terpapar resiko tersebut, kita perlu paham cara mitigasi tsunami. 

Baca Juga: Bukan 24 menit, potensi tsunami di Jatim bisa capai pantai Blitar dalam 20 menit

Selain memahami mitigasi tsunami, Anda juga bisa mengingat konsep sederhana yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Metode sederhana itu adalah metode 20-20-20. 

Metode 20-20-20 

Metode ini tidak berlaku bagi semua wilayah, namun berlaku bagi orang-orang yang ketika kejadian sedang berada atau tinggal dekat dengan garis pantai dan sulit untuk evakuasi ke dataran tinggi. 

Jika Anda merasakan gempa selama 20 detik, waspada tsunami akan datang dalam waktu 20 menit kemudian. Jika berada di garis pantai, sebaiknya Anda mengevakuasi diri Anda untuk naik ke atas gedung dengan ketinggian 20 meter. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menerapkan metode ini adalah Anda harus memilih gedung yang masih berdiri utuh dan kokoh selesai terjadi gempa. 

Jika evakuasi secara vertikal tidak mungkin dilakukan, misalnya semua bangunan di garis pantai hancur atau tidak utuh, Anda bisa melakukakn evakuasi horizontal. Yang perlu Anda lakukan adalah menjauhi bibir pantai sejauh mungkin. 

Baca Juga: Ini kata LIPI soal prediksi gempa dan tsunami Jatim

Marufin Sudibyo, anggota Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen, menjelaskan mengenai evakuasi ini. Normalnya, manusia mampu berjalan kaki dengan kecepatan 80 sentimeter per detik. 

Dengan kecepatan tersebut, jika seseorang berjalan selama 20 menit untuk menjauhi bibir pantai, ia sudah menempuh jarak sekitar 960 meter. Jarak ini sudah melewati zona kuning tsunami, yaitu 500 meter dari garis pantai. 

Akan lebih baik lagi jika Anda mampu berjalan lebih jauh. Perlu diingat, jangan menggunakan kendaraan ketika evakuasi dari bibir pantai karena terdapat resiko gempa susulan yang bisa membahayakan Anda ketika sedang berada di kendaraan. 

Selain itu, jika terjadi kemacetan, ini juga berbahaya karena Anda menjadi tidak bisa melakukan evakuasi terhadap diri dan keluarga Anda.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Potensi Tsunami di Indonesia, Ingat Konsep 20-20-20"
Penulis : Nadia Faradiba
Editor : Nadia Faradiba

 

Selanjutnya: Ada potensi tsunami di Laut Selatan Jatim, ini informasinya

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru