CLOSE [X]

Jadi Pusat Penyebaran Omicron, Jakarta Berpotensi Masuk PPKM Level 3

Selasa, 25 Januari 2022 | 10:28 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Jadi Pusat Penyebaran Omicron, Jakarta Berpotensi Masuk PPKM Level 3

ILUSTRASI. Saat ini, DKI Jakarta berpotensi masuk ke dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyebaran virus Covid-19 varian Omicron di Indonesia semakin tinggi. Salah satu wilayah yang menjadi pusat penyebaran Omicron adalah DKI Jakarta. 

Saat ini, DKI Jakarta berpotensi masuk ke dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator Penanganan PPKM wilayah Jawa dan Bali, Luhut Binsar Pandjaitan. 

Dia bilang, pandemi yang terjadi di DKI Jakarta menyebabkan asesmen situasi Jakarta masuk ke dalam Level 3. 

"Teater perang pandemi yang terjadi di DKI Jakarta menyebabkan asesmen situasi provinsi tersebut masuk ke dalam (PPKM) Level 3," ujarnya saat keterangan pers virtual terkait Evaluasi PPKM, Senin (24/1/2022). 

Rincian terkait level PPKM dapat dilihat pada Inmendagri yang akan terbit dalam waktu dekat.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Pemerintah bakal Terapkan PPKM Darurat? Ini Jawaban Luhut

Dia juga menjelaskan, dalam melakukan asesmen level PPKM, Pemerintah secara konsisten memperlakukan DKI sebagai satu kesatuan wilayah Aglomerasi Jabodetabek. 

"Secara aglomerasi, Jabodetabek saat ini masih pada level 2," ungkap Luhut. 

Melansir laman maritim.go.id, dari sisi level PPKM, terjadi peningkatan jumlah kabupaten kota yang masuk ke level 1.

Sedangkan dari data Google Mobility, mulai terdapat tren penurunan mobilitas di Jawa Bali. Hal ini diprediksi akibat mulai waspadanya masyarakat terhadap varian Omicron. 

Baca Juga: Kasus Omicron Meningkat, Wapres Perintahkan Evaluasi Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka

"Dengan begitu pemerintah sangat mengapresiasi Langkah masyarakat yang telah mengurangi aktivitas luar ruang yang tidak diperlukan," imbuhnya.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru