Investasi saham diramal cerah di 2021, hasil investasi dapen bisa ikut terkatrol

Jumat, 04 Desember 2020 | 05:50 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Investasi saham diramal cerah di 2021, hasil investasi dapen bisa ikut terkatrol


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan kinerja hasil investasi industri dana pensiun masih berlanjut. Hingga Oktober 2020, hasil investasi industri turun 13,66% yoy menjadi Rp 15,22 triliun menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi membeberkan alasan penurunan tersebut karena kinerja pasar modal terdampak sentimen pandemi Covid-19. Akibatnya, harga - harga saham ikut anjlok. 

Meski demikian, ia masih yakin hasil investasi industri akan membaik hingga akhir tahun seiring kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) walaupun sulit menyamai kinerja tahun lalu. Paling tidak, IHSG bisa berada di level 6.000-an pada akhir 2020. "Pasti investasi ke saham tahun depan (membaik) walaupun tidak terlalu agresif," kata Bambang," Kamis (3/12). 

Baca Juga: Eximbank realisasikan fasilitas program PEN senilai Rp 9,5 miliar

Ia memperkirakan, investasi dapen ke saham pada tahun depan tidak akan melebihi 15% dari total portofolio. Sebab, model investasi dana pensiun cenderung konservatif sesuai arah investasi dan strategi pengalokasian aset karena model investasi dana pensiun berdasarkan liabilitas driven atau nilai kewajiban. 

"Yang jelas, dapen tidak akan mengalami perubahan secara drastis dari besaran portofolio. Mereka tetap jaga likuiditas," jelasnya

Senada, Dana Pensiun PT Bank Tabungan Negara (Dapen BTN) telah mengantisipasi dampak Covid-19 terhadap investasi perusahaan sejak  triwulan II 2020. Direktur Utama Dapen BTN Mas Guntur Dwi Sulistyanto bilang, perusahaan berupaya mengurangi investasi dalam bentuk saham dan reksadana saham.

"Kemudian investasi dialihkan lebih banyak di pasar uang. Serta melakukan monitoring dan evaluasi ketat atas obligasi korporasi yang memiliki porsi terbesar dari total investasi dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap performance emitennya," jelasnya.

Sementara pembelian obligasi baru, Dapen BTN memprioritaskan surat berharga dari BUMN atau BUMD  dengan rating minimal single A dan kupon menarik. Lalu investasi ke deposito di bank BUMN. "Untuk dana-dana idle ditempatkan dalam bentuk deposit on call (DOC) dan reksadana pasar uang di manajer investasi milik BUMN sebelum menjadi sumber pendanaan investasi yang baru," jelasnya. 

Baca Juga: Respons manajemen Bank BCA terkait keluhan konsumen soal mesin ATM yang eror

Sedangkan untuk optimalisasi imbal hasil, perusahaan berinvestasi ke SBN dan obligasi melalui pencatatan AFS kemudian dilakukan trading untuk memperoleh gain. Lalu menjadi sumber pendanaan investasi baru, seperti membeli kembali SBN Seri Benchmark tahun 2021 atau obligasi di pasar perdana.

Selain, perusahaan juga merevisi target investasi dan hasil investasi yang tertuang dalam revisi rencana bisnis Dapen BTN Tahun 2020 dan telah mendapatkan persetujuan dari dewan pengawas dan pendiri. Serta melaporkan ke OJK. "Pada dasarnya revisi target lebih konservatif dan lebih realistis dari target awal. Namun demikian strategi tersebut tetap mengedepankan dan menjaga rasio kecukupan dana (RKD) bertahan di atas 100%," pungkasnya. 

Selanjutnya: Bisnis kantor luar negeri bank pelat merah tumbuh positif di tengah pandemi

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru