kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.758   -3,00   -0,02%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Intelijen AS: China ingin mendominasi dunia secara ekonomi, militer dan teknologi


Jumat, 04 Desember 2020 / 10:50 WIB

Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID -  NEW YORK. China adalah ancaman terbesar bagi demokrasi dan kebebasan sejak Perang Dunia Kedua. Hal itu diungkapkan oleh salah satu pejabat tinggi intelijen AS. 

Melansir BBC, saat menuliskan opininya di Wall St Journal, John Ratcliffe mengatakan China mengembangkan kekuatannya dengan mencuri rahasia AS dan kemudian menggantikan perusahaan AS di pasar.

Ratcliffe juga bilang, Pemerintahan Trump telah mengambil tindakan tegas terhadap China, yakni dengan memberlakukan tarif pada barang-barang China dan menuduh Beijing melakukan pencurian kekayaan intelektual.

Terkait hal ini, China belum memberikan tanggapan.

Meski demikian, AS telah menanggapi dengan tegas aksi China dengan pengenaan tarif tinggi dan upaya untuk menjauhkan raksasa telekomunikasi Huawei dari pasar Amerika.

Baca Juga: Ancaman Rusia meningkat, Angkatan Laut AS kembali hadirkan Armada Atlantik

"Beijing sedang mempersiapkan konfrontasi dengan AS dan bermaksud untuk mendominasi dunia secara ekonomi, militer dan teknologi," Ratcliffe memperingatkan seperti yang dikutip BBC.

Beberapa komentar Ratcliffe menggemakan intervensi sebelumnya oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan kepala FBI Christopher Wray.

Namun, peringatan tersebut juga datang pada saat China tengah meningkatkan tekanannya pada sekutu AS, Australia. Yakni dengan memberlakukan tarif impor anggur Australia dan memprovokasi pemerintah Australia atas catatan haknya di Afghanistan. 

Baca Juga: Riset CDC AS: Virus Covid-19 sudah ada di Amerika sejak pertengahan Desember

Direktur Intelijen Nasional AS mengatakan, China terlibat dalam bentuk spionase ekonomi yang dia gambarkan sebagai "merampok, mereplikasi, dan mengganti", dengan memberikan contoh perusahaan turbin angin China yang dinyatakan bersalah di AS karena mencuri dari pesaing AS sebelum dijual ke seluruh dunia sementara perusahaan AS kehilangan nilai pemegang saham dan memecat staf.



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×