kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ini 2 Penyebab Kenaikan Harga Komoditas Pangan


Sabtu, 16 April 2022 / 07:05 WIB
Ini 2 Penyebab Kenaikan Harga Komoditas Pangan

Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat resah dengan naiknya sejumlah harga pangan dan energi. Kondisi ini menjadi pertanyaan besar masyarakat di tengah ekonomi yang baru pulih dari pandemi.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Continuum Data Indonesia menggelar, diskusi untuk mengulas permasalahan ini. Dari sudut pandang perekonomian, ditemukan banyak faktor penyebab naiknya sejumlah harga pangan dan energi.

Kepala Center of Digital Economy and SME’s INDEF, Eisha M Rachbini mengatakan, secara analisis dari sudut pandang perekonomian, kenaikan harga komoditas disebabkan oleh dua hal.

“Pertama, pasca pulih dari pandemi permintaan belum disambut memadai oleh sisi supply. Kedua, terjadinya disrupsi supply chain,” ujar Eisha dalam diskusi virtual, Kamis (14/4).

Baca Juga: Optimisme Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Bayang-Bayang Inflasi

Eisha mencontohkan mengenai kelangkaan minyak goreng, setelah pandemi Covid 19, permintaan yang berangsur pulih dari konsumen akan komoditas minyak goreng belum disambut memadai oleh sisi supply.

Menurut Eisha, hal itu terjadi karena kecepatan demand tidak dapat diimbangi oleh faktor produksi di industri. Sebab, masih terhambat akibat terhentinya produksi karena pandemi.

Terlebih lagi, terjadinya disrupsi supply chain, di mana selama pandemi terjadi layoff shipping firm yang mengganggu distribusi barang di seluruh dunia. Akibatnya, supply terhambat dan tidak memenuhi permintaan pasar barang dan jasa yang mulai berangsur pulih.

Hal tersebut juga disebabkan oleh terjadinya perang Rusia dan Ukraina yang mendorong kenaikan harga minyak bumi  di atas US$100 per barel. Begitu pula harga komoditas yang lain seperti CPO, batubara, nikel dan kakao.

“Rusia dan Ukraina adalah produsen terbesar gandum dunia, oil, metal nikel dan batubara serta bahan baku fertilizer. Perang mengakibatkan harga komoditas-komoditas penting tersebut naik tinggi,” kata Eisha.

Eisha bilang, kenaikan harga mengakibatkan inflasi tinggi yang berdampak pada beban harga produksi pada industri menjadi meningkat. listrik, LPG, BBM.

Ketika cost structure yang meningkat, maka akan menyebabkan harga produk akhir juga meningkat, dan dapat mendorong inflasi. Otomatis daya beli konsumen juga akan menurun.

INDEF pun khawatir masalah berkepanjangan ini dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat. Sebab, ketika cost structure naik, appetite untuk berinvestasi kembali akan berkurang, karena modal industri menjadi terbatas.

Nah, ketika sisi konsumsi dan investasi sebagai dua komponen pada pembentukan PDB terganggu, maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Melengkapi diskusi tersebut, Natasha Yulian selaku Data Analyst Continuum Data Indonesia mengatakan, masyarakat merespon mengenai kenaikan harga-harga dengan menuangkan kekesalannya di media sosial.

“Dari data yang dihimpun Continuum di media twitter, ditemukan sebanyak 53% perbincangan berisi respon masyarakat terhadap kenaikan harga Pertamax (52,103 twit), lalu minyak goreng (37,857), LPG (4,522), daging (10800, dan kedelai (625),” tutur Natasha.

Baca Juga: Kunjungi pasar, Mendag Temukan Harga Sejumlah Komoditas Pangan Masih Tinggi

Natasha menjelaskan, sebanyak 69% perbincangan berisi keluhan masyarakat terhadap kenaikan harga terhadap berbagai komoditas di pasaran. Untuk kedelai, cukup mendapatkan respons positif. Namun, sentimen negatif terjadi pada harga daging 88,57%, Pertamax 84,87%, LPG 83,99%, Minyak goreng 69,285.

Continuum mencatat, 65% perbincangan mengaitkan kenaikan harga komoditas dengan Presiden Joko Widodo (17.277 twit), mengaitkan dengan Erick Thohir (2790), LBP (2705), Basuki Tjahja (2127) M Lutfi (747), Puan Maharani (491), Airlangga (320) dan Megawati (262).

Untuk itu, Indef bersama Continuum menyarankan kepada pemerintah untuk memperhatikan bantalan sosial bagi masyarakat kurang mampu, khususnya ketika terjadi shock harga-harga.

Di mana, subsidi berfungsi agar masyarakat tidak jatuh lebih dalam kepada kemiskinan. Meski itu artinya subsidi pemerintah akan naik dan beban anggaran pemerintah bertambah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×