kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Industri AMDK Terjepit! Daya Beli Masyarakat vs Harga Bahan Baku


Rabu, 15 April 2026 / 06:24 WIB
Industri AMDK Terjepit! Daya Beli Masyarakat vs Harga Bahan Baku
ILUSTRASI. Daya beli masyarakat sensitif, tapi biaya produksi AMDK meroket karena harga plastik global. Pahami dilema industri yang berdampak pada harga. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Reporter: Zendy Pradana | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) mengungkapkan industri air mineral dalam kemasan (AMDK) saat ini menghadapi tekanan biaya yang cukup serius. Salah satu penyebab utama adalah meningkatnya harga plastik dalam negeri yang berdampak langsung terhadap struktur biaya produksi.

Ketua Umum Amdatara Karyanto Wibowo mengatakan, lonjakan harga plastik terjadi karena faktor global yang dipicu ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

“Amdatara melihat bahwa industri AMDK saat ini berada dalam tekanan biaya yang cukup serius, seiring meningkatnya harga bahan baku kemasan terutama plastik resin yang dipengaruhi oleh faktor global seperti harga minyak, gangguan rantai pasok, dan volatilitas geopolitik,” ujar Karyanto Wibowo kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).

Dampak Langsung ke Struktur Biaya Industri

Karyanto menjelaskan, kenaikan bahan baku kemasan seperti plastik resin berdampak langsung terhadap cost structure industri AMDK. Kondisi ini menjadi tantangan berat karena di saat bersamaan ruang untuk menaikkan harga jual produk juga terbatas.

“Di sisi lain, daya beli masyarakat masih sangat sensitif, sehingga ruang untuk penyesuaian harga menjadi sangat terbatas,” ucapnya.

Baca Juga: BRIN Waspadai Kembalinya Wabah Pes di Indonesia, Apa yang Terjadi?

Menurut Karyanto, para pelaku industri AMDK kini berupaya menjaga keseimbangan antara kelangsungan bisnis dengan kebutuhan publik, termasuk memastikan pasokan air minum yang aman, terjangkau, dan berkualitas.

Selain itu, industri juga tetap dituntut untuk patuh terhadap regulasi serta menjaga komitmen keberlanjutan lingkungan.

Namun ia menegaskan bahwa tekanan biaya yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan profit industri semata.

“Artinya, tekanan biaya ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kesehatan publik,” jelas Karyanto.

Tonton: Menteri Rosan Proyeksi Realisasi Investasi Kuartal I-2026 Tembus Rp 497 Triliun

Dengan kondisi biaya produksi yang terus meningkat, pelaku industri berharap adanya stabilisasi harga bahan baku kemasan agar pasokan AMDK tetap terjaga dan harga di tingkat konsumen tidak semakin terbebani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×