kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%

Harga Plastik Global Naik, Pedagang Pasar Pilih Tahan Harga Agar Pelanggan Tak Lari


Selasa, 07 April 2026 / 04:11 WIB
Harga Plastik Global Naik, Pedagang Pasar Pilih Tahan Harga Agar Pelanggan Tak Lari
ILUSTRASI. Pedagang pasar tradisional kini hadapi tekanan berat. Kenaikan harga plastik global membuat margin untung menipis demi jaga pelanggan. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kenaikan harga plastik di pasar global mulai memberikan tekanan bagi pelaku usaha di dalam negeri, khususnya pedagang di pasar tradisional. Meski biaya produksi meningkat, sebagian pedagang memilih menahan harga jual demi mempertahankan loyalitas pelanggan.

Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan mengatakan, kenaikan harga plastik berpotensi mendorong kenaikan harga barang di pasar. Namun, banyak pedagang masih menahan harga di tingkat pengecer agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain.

“Beberapa anggota kami masih menahan harga agar pelanggan dan langganannya tidak lari,” ujar Reynaldi kepada Kontan, Senin (6/4/2026).

Reynaldi menambahkan, kebijakan menahan harga tersebut membuat margin keuntungan pedagang semakin menipis. Di sisi lain, para pedagang tetap bertahan karena tren kenaikan harga plastik terjadi hampir setiap pekan, bahkan cenderung harian.

IKAPPI juga mendorong penggunaan alternatif kantong belanja non-plastik, seperti tas anyaman. Gerakan ini telah lama dikampanyekan sebagai bagian dari upaya ramah lingkungan, namun adopsinya masih terbatas akibat kebiasaan konsumen yang masih bergantung pada kantong plastik.

“Kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan karena perilaku konsumen yang terbiasa menggunakan plastik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Reynaldi menilai stabilitas pasokan bahan baku plastik sangat dipengaruhi kondisi geopolitik global. Konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Iran, disebut turut mengganggu rantai pasok dan distribusi bahan baku plastik.

Baca Juga: Harga Avtur Naik 70%-80%, Bahlil Klaim RI Masih Lebih Murah dari Negara Tetangga

Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat hubungan dagang dengan negara pemasok lain, seperti Thailand, guna menjaga kelancaran impor dan meredam gejolak harga plastik di dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) Indonesia mencapai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun pada Februari 2026.

China menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$ 380,1 juta, disusul Thailand sebesar US$ 82,7 juta dan Korea Selatan sebesar US$ 66,7 juta.

Selain itu, impor juga berasal dari Amerika Serikat senilai US$ 29,9 juta dan Arab Saudi sebesar US$ 14,9 juta.

Tonton: Impor Plastik Murah Disikat! Menkeu Purbaya Kenakan Tarif BMAD, Cek Besarannya

Pasokan plastik Indonesia juga datang dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Taiwan. Kondisi tersebut menunjukkan ketergantungan impor yang masih cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik di pasar domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×