Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada pergerakan harga bahan bakar penerbangan atau avtur.
Meski demikian, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim harga avtur di Indonesia masih berada pada level yang kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, fluktuasi harga avtur yang terjadi saat ini tidak lepas dari pengaruh dinamika pasar global.
Mengingat layanan pengisian bahan bakar ini juga melibatkan maskapai internasional, penyesuaian harga dinilai sebagai hal yang lumrah karena mengikuti perkembangan harga minyak dunia.
"Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar, dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Bahlil tidak menampik adanya kenaikan harga jual yang dipatok PT Pertamina (Persero) untuk merespons kondisi pasar saat ini.
Namun, ia menegaskan bahwa secara komparatif, struktur harga avtur di Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat jika dibandingkan dengan harga di kawasan regional.
Baca Juga: Aturan Takedown Konten 4 Jam Tuai Polemik, Ini Masalah yang Disorot
"Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif ya," tegasnya.
Sebelumnya, Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) serta penyesuaian Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan domestik.
Langkah ini menyusul lonjakan harga avtur per 1 April 2026.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengatakan, kenaikan harga bahan bakar pesawat tersebut tidak terlepas dari kondisi global yang tidak menentu.
“Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).
Berdasarkan data penyesuaian harga dari Pertamina, harga avtur domestik periode 1-30 April 2026 naik rata-rata 70%. Sementara untuk rute internasional, kenaikannya mencapai 80%.
Di Bandara Soekarno-Hatta misalnya, harga avtur domestik melambung dari Rp 13.656,51 per liter pada Maret menjadi Rp 23.551,08 per liter pada April, atau naik 72,45%.
Tonton: Pertamina Patra Niaga Kerahan 148 Kapal Amankan Pasokan BBM dan LPG ke Wilayah 3T
Jika ditarik lebih jauh ke tahun 2019 saat aturan TBA mulai diberlakukan, harga avtur domestik yang saat itu berada di level Rp 7.970 per liter kini telah meroket hingga 295%.
Kondisi serupa juga terjadi pada harga avtur internasional. Harga naik dari US$ 0,742 per liter menjadi US$ 1,338 per liter atau tumbuh 80,32%.
"Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur dan Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan domestik," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













