CLOSE [X]

Hadapi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Begini Peringatan IMF bagi Negara Berkembang

Rabu, 12 Januari 2022 | 06:15 WIB   Reporter: Bidara Pink
Hadapi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Begini Peringatan IMF bagi Negara Berkembang


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana Moneter Internasional (IMF) peringatkan negara-negara berkembang untuk lebih sigap dalam mengantisipasi peningkatan suku bunga yang lebih cepat dari bank sentral Amerika Serikat (AS). 

Apalagi, saat ini The Federal Reserve (The Fed) sudah mulai lebih agresif dalam melakukan tapering off melihat peningkatan signifikan inflasi yang bukan sementara, serta menurunnya tingkat pengangguran. 

Tanda perekonomian yang membaik ini kemudian bisa memicu kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat. 

Nah, bila peningkatan suku bunga The Fed terjadi lebih cepat, IMF menilai langkah The Fed ini mampu melecut gonjang-ganjing di pasar keuangan global. 

Baca Juga: IMF Beberkan Risiko Pembelian Surat Utang Pemerintah oleh Bank Sentral

Kemudian, memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang dan imbasnya, depresiasi nilai tukar mereka makin tak terelakkan. 

“Para pengambil kebijakan harus bereaksi dengan mulai menarik beberapa tuas kebijakan. Belum lagi ada tantangan yang harus mereka hadapi di dalam negeri sendiri,” tulis lembaga tersebut dalam laman resmi IMFBlog, seperti dikutip Selasa (11/1). 

Dampak pengetatan The Fed dalam skenario tersebut bisa lebih parah bagi negara-negara rentan, yaitu negara-negara dengan utang publik dan utang swasta yang tinggi, bergantung pada eksposur valuta asing, serta saldo transaksi berjalan yang rendah. 

Negara-negara tersebut memiliki pergerakan mata uang yang relatif lebih besar terhadap dollar AS. 

Belum lagi pertumbuhan yang lebih lambat ditambah dengan kerentanan yang meningkat bisa menciptakan putaran umpan balik yang merugikan negara-negara tersebut. 

Nah, kemudian IMF pun memberikan beberapa imbauan bagi negara-negara berkembang untuk menghadapi masalah ini. 

Baca Juga: Restitusi Pajak pada Tahun 2021 Tembus Rp 196,11 Triliun

Pertama, negara-negara berkembang wajib mengambil kebijakan cepat tetapi dengan tetap memperhatikan kondisi negara mereka dan juga menimbang kerentanan negara mereka. 

Mereka yang memiliki kredibilitas kebijakan untuk menjaga inflasi, bisa memperketat kebijakan moneter secara bertahap. Sedangkan mereka yang sudah menghadapi tekanan inflasi yang lebih kuat harus bertindak lebih cepat dan komprehensif. 

“Namun, dalam kedua kasus ini, negara berkembang harus rela membiarkan mata uang terdepresiasi dan menaikkan suku bunga acuan,” tambah iMF. 

Nah, bila dihadapkan pada kondisi yang lebih parah, maka bank sentral dengan cadangan devisa yang cukup tambun bisa melakukan intervensi. Namun, intervensi jangan memengaruhi stabilitas ekonomi makro. 

IMF sadar, langkah tersebut memang memberikan dilema bagi negara-negara berkembang. Dalam hal ini mereka berada di antara ekonomi yang masih lemah dan keharusan menjaga stabilitas eksternal. 

Untuk itu, imbauan kedua, pasar negara berkembang bisa mengambil langkah sekarang untuk memperkuat kerangka kebijakan dan mengurangi kerentanan. 

Di dalamnya, sangat penting para pemangku kebijakan untuk melakukan komunikasi yang jelas dan konsisten terkait rencana kebijakannya sehingga meningkatkan pemahaman publik. 

Kemudian, negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi dalam mata uang asing harus berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dan melakukan lindung nilai. 

Bisa juga dengan memperpanjang jatuh tempo kewajiban dan perlu memulai penyesuaian fiskal lebih cepat untuk mengurangi hal ini. 

Ketiga, kebijakan fiskal bisa membantu dengan menetapkan komitmen yang kredibel untuk strategi fiskal jangka menengah, seperti meningkatkan pendapatan pajak, efisiensi belanja, bahkan reformasi fiskal. 

Keempat, beberapa negara juga perlu mengandalkan jaring pengaman keuangan global. Termasuk, menggunakan jalur swap, persetujuan pembiayaan regional, dan juga menimbang menarik pinjaman dari lembaga multilateral. 

Apalagi, IMF kini sudah memberikan Hak Penarikan Khsuus atau Special Drawing Rights (SDRs) senilai US$ 650 miliar di tahun 2021. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi

Terbaru